Sabtu, 21 Desember 2024

KU YAKIN KAN AKU ADA

ku yakinkan aku ada
pada saat baikmu
pada saat sulitmu

diantara riang tawa
diantara tangis duka

menjadi teman
yang menemani
terang gelapmu
dingin panasmu

ku yakinkan aku ada
dalam alur bilur galur hidupmu
menjadi lilin yang menerangi
ruang batinmu
sampai saatnya tiba
lilin itu musnah
leleh oleh panas
yang kuberikan padamu

ku yakinkan aku ada
menjadi kayu bahan bakarmu
jadi sumber bagi nyalamu, terangmu, hidupmu
sebelum akhirnya musnah
jadi abu arang hitam
jelaga di udara.

ku yakinkan aku ada
sebagai tangga
sebagai penyangga 
mengangkat mu ke ketinggian baru
sampai nanti akhirnya 
aku patah
aku rebah
aku musnah.

ku yakinkan aku ada
di sisimu. 



Sabtu, 02 November 2024

TERIMAKASIH RASA SAKIT

Terimakasih untuk 
rasa sakit
yang selalu memberi peringatan.
pengingat disaat lengah
saat diri dilena
oleh kenikmatan fana

Terimakasih untuk rasa sakit
yang menusuk-nusuk 
menyebarkan perih 
melumpuhkan sekujur badan 

Menjadi lawan, antagonis
atas kenikmatan, kenyamanan.
Menjadi pengingat
bahwa entropi tetap ada
selalu ada 
menunggu di ujung sana

terimakasih untuk rasa sakit
yang mendewasakan
menyuburkan paham.

Terimakasih.

Rabu, 11 September 2024

PETANG MATANG

Petang matang di matamu
aku hilang terjerang

Matahari pulang
Malam pula datang
Cahaya hilang

Gelap menyelubung
Membungkus memagari aku
yang matang di matamu
Tersadar terpapar
tsunami informasi membanjiri


Senin, 26 Agustus 2024

AJAL

Aku tahu itu 
Itu akan terjadi
Pada semua
Yang bernyawa

Aku tahu 
Semua kan merasakan
Saat dia kan tiba


Sabtu, 24 Agustus 2024

SEDANG BERSEDIH

Kita sedang bersedih
Negara ini sedang bersedih
Sedih melihat
Ada rakyatnya 
Ada pemimpinnya
Tengah mencari celah
Di tengah titik lemah
Demokrasi

Mencari celah 
Untuk menenegakkan keluarga
Untuk mendirikan wangsa
Menjadi raja

Mengkhianati demokrasi
Yang seharusnya ada 
Dari dan untuk rakyat

Kita sedang sedih
Negara sedang sedih 
Rakyat sedang sedih
Melihat wakilnya
Mengerumuni penguasa
Mendukung sang pemenang
Hanya mengharap cipratan 
Sedikit madu kekuasaan
Sementara mereka lupa
Pada apa yang seharusnya
Siapa yang seharusnya
Mereka wakilkan

Menelikung aturan dengan aturan
dengan terang telanjang 
Memihak penunggu istana

Kita sedang sedih
Kita harus sedih
Bahkan harus marah
Karena negara ini juga milik kita

Rakyat yang lelah
Rakyat yang lemah
Rakyat yang hanya bisa bermimpi
Tentang ratu adil 
Yang datang membawa keadilan 
Yang membawa kebaikan.

Atau perlukah kita sendiri
Yang menjadi ratu adil
Bagi diri masing-masing 
bagi bangsa negara ini
Lalu membiarkan penguasa-penguasa
lalim yang haus akan kekuasaan ini
hanyut, karam dan tenggelam lagi
dalam arus reformasi 
atau sekalian revolusi!?

Kita berhak sedih
Kita berhak marah
Tapi tetap wajib kendalikan diri

Bangsa ini sudah banyak punya luka 
Tak perlu lagi menambah goresan baru
Di tengah silang menyilang luka masa lalu
Yang memang sudah sembuh
Namun masih meninggalkan perih
Dan ribuan tanya

Kita sedang sedih 
Kita sedang marah
Makanya kita perlu bersuara
Turun kembali ke jalan
Bersuara paling lantang
Melawan semua
Ketidakadilan ini.

INDONESIA DARURAT

Indonesia darurat.
Ketika semua bicara tentang rakyat
Ketika semua bicara atas kepentingan rakyat. 
Tapi sebenarnya 
hanya bicara
Hanya berkata 
Hanya bekerja 
Untuk diri
Keluarga, kroninya, partainya.

Indonesia darurat
Darurat hampir sekarat
Darurat ketika hukum 
bisa diputarbalikkan
Darurat ketika hati, perasaan dan pikiran
Bisa dipermainkan
Orang-rang dianggap bodoh
Hingga bisa dibodohi
Atau diajak ikut dan manut.
penguasa menghina akal sehat
Seluruh masyarakatnya
Dengan caranya yang tolol
Kasar dan telanjang.

Indonesia darurat
Krisis nyaris disemua lini
Belum lagi potensi gempa Mega thrust!

Rakyatlah yang berdiri 
kian gamang dan renggang
Dihajar sehari-hari
Oleh tuntutan kehidupan
Yang semakin hari 
Tak pernah semakin mudah

Sementara penguasa,
Yang berkuasa,
Ada yang ingin tetap aman
Saat kuasanya telah sirna
Berusaha menguatkan mengikatkan
Mengetatkan diri pada tiang baru istana 
Yang sengaja dipancangkan
Dengan berupa cara 

Yang ingin dapat kuasa
Mengecap rasa sebagai penguasa
Dekat dengan lingkaran pusaran kuasa
Melakukan berupa cara
Lupa dengan janji-janji
Yang telah diagung gaungkan
Di telinga-telinga yang papa, 
masyarakat yang lapar
Masyarakat yang hanya 
menginginkan sesuatu
yang nyata 
Bukan ujaran kata-kata 
Atau cita-cita
Yang belum cukup mengenyangkan
Perut anak-anaknya yang lapar

Tapi ada yang bersuara
Bicara berkata
Kalau Indonesia sedang baik-baik saja
Tak ada bahaya 
Apalagi bencana
Hidup berlangsung pada alurnya
Biasa saja.

Lalu kita biarkan saja
Segala yang tampak rancak
Tapi koyak dan retak 
Ini terus terjadi?

Indonesia darurat
Saat hukum tak dipakai lagi
Untuk membatasi kekuasaan.
Hingga negara ini menjadi negara milik penguasa.

Maka ayo keluarkan suaramu
Teriakkan sekerasnya 
Katakanlah kalau itu salah
Hentikanlah!

Karena, suara kita 
Adalah suara Tuhan
Yang semoga bisa menghentikan
Semua pelecehan 
Terhadap demokrasi!




Senin, 19 Agustus 2024

ANGIN PEMBAWA HUJAN

Angin pembawa hujan
Meniupkan hawa dingin
Pohonan, ranting dahan
Bergerak liar meliar
Dalam sapuan udara berkisar-kisar

Derak gemeretak
Guntur di kejauhan
Serak laksana 
geram raksasa mitologi
Menahan amarah 
yang hendak meledak

Hati menunggu
Di tengah diam dan hening
Kecuali ditingkahi
Desah resah rerantingan
Percabangan fraktal yang kekal

Angin pembawa hujan
Mengalir mengisi
Ruang kosong
Yang tak pernah
Bisa diisi.

Angin pembawa hujan
Membawa hujan
Membasuh segala kering
Debu-debu yang menyesak
Menyiram segala yang ada
Menjadikannya basah dan lecah.

Hujan tiba
Sang angin usai
Tugasnya pun tunai.


Sabtu, 27 Juli 2024

UPAYA MEMBUNUH SEPI

Aku sudah berupaya
Dengan segala cara
Untuk membunuh sepi

Bernyanyi, memutar semua 
perangkat audio, berteriak
Tertawa terbahak-bahak 
Mencoba semua suka
Mencoba semua ria
Mencoba semua dosa

Namun diri tetap sendiri
Menyendiri dalam auranya 
Yang sunyi

Sepi-sepi datang menemani
Hati yang lengang rumpang
Berusaha memeluk, menekuk
Membenamkan 
Dalam kumparan rasa 
Nyaris hampa

Aku berusaha
Melawan mengalahkannya
Dengan sejuta cara
Penuh segala daya

Tapi dia tetap ada
Ada dan berkuasa
Di relung-relung 
Sudut-sudut 
Yang tak disentuh
Oleh cahaya.

Lalu bagaimana pula
Cara yang kau coba
Untuk membunuh sepi
Yang senantiasa menemani?


Selasa, 23 Juli 2024

SETETES MENETES

Setetes
Menetes

Melebar
Membabar

Memanjang 
Merentang

Melapang
Meruang

Membuka.

Secarut
Ngelangut

Sekeping
Melenting

Sekepak
Merebak

Meretak
Rusak

Segenggam
Menyulam
Suram

Hilang
Terbang

Bingkas
Lepas






Rabu, 17 Juli 2024

USAI

Usai rinai derai
Melangkahlah lagi menapaki 
Jejalanan basah lecah
Sembari menatap ke depan

Usai rinai derai
Mengemasi diri dan hati
Meninggalkan peri
Membiarkan waktu mengobati
Hingga nanti sembuh sendiri 

Di depan sana
Tak tahu apa
Hanya meraba
Setapak demi setapak 
Menyelusur
Dalam pendar pertanyaan,

"Apakah ada rinai derai di sana?
Yang mampu membuat berhenti
Seraya menangisi segala perih di hati?"

Jumat, 12 Juli 2024

Rabu, 10 Juli 2024

Jumat, 05 Juli 2024

RUANG KOSONG

Ada kekosongan 
Yang tidak bisa terisi
Dengan apapun

Satu ruang
Dengan sunyi mengambang

Gelap 
tak tembus
Oleh cahaya

Hampa
Tiada nada
Tiada warna

Kekosongan
Menekan membekap

Membuka ruang
Semakin lebar membentang

Menekan ke segala arah!

Apa kekosongan 
Adalah isi itu sendiri?

Karena dialah yang mengisi
Memberi arti
Pada ruang lapang terkangkang!?

Apakah isi 
Adalah kekosongan itu sendiri?
Karena adalah ia
Yang memberi arti 
Pada kekosongan itu sendiri

Ruang kosong 
tak terjangkau
Teredam diam





Kamis, 04 Juli 2024

PULANG

Pada setiap pulang
ada yang selalu terkenang
Tentang ranah aman nyaman
Tempat membaringkan kepala yang
Lelah

Pada setiap pulang
ada yang selalu terngiang
Pada hangatnya sapa
Pada hangatnya simpati dan empati
Pada makan malam yang masih 
menguarkan aroma penggugah selera
Pada ruang yang hingar tapi senang
Pada canda, tawa dan suara-suara 
Yang coba mengalahkan gelap
dan heningnya malam

birahi bisa dibeli
Penganan bisa dicari
Ingar bisa dibayar

Tapi
Pulang lebih dari menepi
Dari gigi-gigi hari 
Yang menggigit, menggerus, melumatkan
Mengunyah mampatkan

Pulang adalah cara
Mencari nyaman
Menyelamatkan diri
Menjadi waras 
Kembali jadi manusia
Dengan segala kebaikannya.

Pulang adalah cara kembali
Menjadi diri

Dipeluk rumah 
yang menghangatkan hati

Mengisi kembali.

Kamis, 27 Juni 2024

HARI BIASA

Menghapus dan menulisnya 
Lagi dan lagi
Pesan-pesan yang tak pernah terkirim 

Menahan degupan di dada
Laksana genderang hendak perang
Ketika tanpa sengaja
Tertekan juga tombol kirim

Berlaga dengan rasa
Meminta maaf atau biarkan saja?

Menatap dalam diam 
Seraut wajah
Seraya berharap kemungkinan terindah menjamah

Berlaga dengan rasa
Apa harus diam atau dikatakan?

Ternyata kita pernah selugu itu
Berdiang dalam hangatnya cinta
Yang begitu manja tapi sederhana
Mewarnai segala rasa

Ternyata kita pernah sesalah itu
Menghayati cinta secara luar biasa
Laksana gelora
rasa yang nyala menyala

Namun, betapa dahsyatnya waktu
Meninggalkan itu semua
Dalam liat ligatnya yang mendudu maju
Meninggalkan semua 
Jadi hanya sekadar bekas, berkas kenangan yang takkan mungkin bisa diulang.

Dulu, itu hanya hari biasa
Diantara hari-hari biasa lainnya
Berhias gelak dan canda 
Tanpa banyak berpikir tentang
makna dan hakikat

Hidup hanya sederhana
Bersahaja mengikut alurnya.

Namun, betapa dahsyatnya waktu!

Jumat, 21 Juni 2024

MANUSIA MENGHIDUPKAN PERISTIWA

Manusia menghidupkan peristiwa 
Dengan makna
Memberinya drama
Memberinya rasa

Semua padahal hanya biasa
Lahir, kawin, mati
Ada di setiap sudut dunia

Hanya peristiwa biasa
Menjadi rutin
Serutin terbit tenggelam nya 
Mentari

Manusia yang memaknainya
Memberi cerita, drama 
Bahkan memberikannya nama
Nyawa juga cinta! 
 
Peristiwa terus berjalan
Seiring gerak semesta 

 

KAMU BERHAK BAHAGIA

Kamu berhak bahagia
Biar bukan bersamaku
Segala suka cita rasa gembira
Berhak kau sematkan di hatimu

Aku hanya benalu
Yang memberati pikiranmu
Sudah selayaknya kau basmi
Kau habisi

Cinta yang kuanggap suci tanpa noda
Adalah beban yang memberatkan langkah

Kamu berhak bahagia
Bersamanya
Dia yang sudah kau cinta  
Sejak lama

Aku hanya benalu
Tumbuh bersembunyi
Dalam gelap bayang-bayang
Sendiri
Berusaha mengakar
Mencari-cari meresapi
Rasa cinta dalam hatimu

Aku hanya benalu pengganggu
Gulma yang bersahaja
Menyelinap mencari cinta
Dalam jiwa raga mu

Kini kau akan akhiri masa
Sendiri mu
Memutuskan pilihanmu
Meninggalkan segala luka
Cerita lama
Membangun episode baru

Dan aku
Dengan luka tersembunyi
Berkuah darah
Bergelimang nanah

Rasa pedih dan nyeri
ku tahan sendiri
Menutup koyak rebak
Menjahit setiap bilur luka
Dengan tangan yang lemah gemetar

Kau berhak bahagia.


Jumat, 14 Juni 2024

PATAH HATI SEPERTI DI FILM-FILM

Ini bukan patah hati 
Seperti di film-film 
Dimana setelah semua drama dan duka
Selalu berujung bahagia.

Ini bukan luka
Seperti di film-film 
Dimana darahnya hanya sekadar properti
Dimana sakitnya hanya akting yang garing

Ini patah  di hati,
ini luka yang nyata
Sakitnya lama terasa
Tetap tinggal dalam dada
Dalam jiwa

Ini patah di hati
Ini luka yang tetap dibawa 
Dibungkus laku biasa 
Dihias canda dan tawa
Di simpan di pedalaman hati
Yang jauh tersembunyi 
Tempat yang bahkan diri
Tak berani mengunjungi

Ini bukan patah hati seperti di film-film 
Tiada akhir bahagia
Tiada karakter utama
yang terakhir tertawa 

Hanya ada realita 
Yang sibuk menata luka
Sambil mencoba tertawa
Dan menyeka airmata
Yang jatuh meluruh 
Ke dalam...

secara bersamaan!

Ini memang bukan
patah hati seperti di film-film 
biarpun terkadang diri
ingin bermimpi
merasai ...

PUISI YANG TAK PERNAH TIBA

Puisi tak pernah tiba
Terkunci di laci
Terkunci di lemari 

Bagaimana kan hendak tiba
Tiada hasrat untuk membaca
Sendiri ia tergeletak
Di dasar laci
Di lemari terkunci

Pesannya mengampas
Luruh seiring waktu membisu
Basi, mati
Tetap tersembunyi.
Tak bisa bernyanyi
Mewakili perasaan hati

Habis guna
Terpenjara

Puisi tak pernah tiba
Lenyap dalam kelindan masa
Lesap dalam kumparan asa

Surat cinta yang coba-coba
dibungkus kata-kata bijaksana
Surat cinta yang bersembunyi
Dalam larik lirik sayu merayu 
Punah, binasa.
                           Kadaluarsa!

Hanyutlah dia dibawa arus masa
Mengambang hilang dalam ruang
Lalu karam dalam kelam
Ditinggal panah waktu laju mendudu
Menjadi sampah peradaban
Menjadi sampah perasaan
Residu yang tak pernah habis terbakar
Hitam berjelaga
Berkerak di sudut hati
Terdalam 
Terlegam
Terhitam!

Puisi yang tak pernah tiba
Tertinggal dalam laci
Terkunci di lemari
...

Senin, 10 Juni 2024

MENCINTAI TANPA MEMILIKI

Berdamai dengan diri 
Yang terlalu lelah bertempur

Meletakkan segala senjata
Asa, harap, sebangsanya 

Kembali menyerah kalah
Pada takdir yang gagah

Kini diri hanya patuh 
Menatap dari jauh
Segala riuh menggemuruh

Mengemasi diri
Merawati luka hati
Sembari meniti
Jalur pergi

Semua sudah mendekati akhir
Pintu jendela telah 
Rapat dikunci
Berhenti berpaling
Menatap lagi ke depan

Sisa jalan yang kian dekat
Kian rapat
Dengan maut yang menyambut
menjemput!

Belajar dan terus belajar
Untuk mencinta tanpa memiliki
Karena sesegala yang ada 
Bukan pula punya kita...

Belajar mencintai tanpa memiliki
Belajar melepas

Karena cinta
Mungkin tak pernah mungkir
Mungkin tak kenal akhir
  ...



Senin, 03 Juni 2024

BULAN SABIT SEIRIS TIPIS

Bulan sabit 
Seiris tipis 
Lenyap ditelan awan
Malam jadi sempurna
Gelapnya

Harapan
Mengawang, menggenang
terapung mengambang
Hanyut perlahan, hilang

Sekali lagi
Hidup memberi coba
Ujian lama
Dengan soalan itu juga
Membawa bukan menaikkan
Malah menghempas menjatuhkan

Bulan sabit
Setipis kertas
Melayang-layang
Diantara awan
Redup kilaunya
Dikalahkan mendung 
Yang siap menumpahkan hujan

Memulai badai lain lagi



DI TENGAH BAHAGIA, ADA YANG BERDUKA

Di tengah bahagia
Ada yang berduka

Di tengah suka cita
Ada luka menganga

Tak semua bahagia
Membawa gembira

Kini, menjelang hari bahagia
Bersiap diri mengemasi hati

Untuk terluka
Untuk berduka

Kini, sembari .menghitung hari
Mengasingkan diri menyepi 
Menjauhi segala derak gerak

Kalbu menjamak 
sajak yang berarak
Melagukan elegi patah hati
Abadi

Segala asa cita
Harap gelap 
Dikuburkan
Dimakamkan
Pada pusara tak bernama
Yang selamanya tinggal tersembunyi
Di relung palung
Terdalam
Terkelam.

Di tengah bahagia
Di tengah suka
Tersembunyi duka

Luka menganga






Sabtu, 01 Juni 2024

LUKA INI

Luka ini 
Seperti luka-luka 
Yang telah biasa kurawat
Di hati yang penuh bekas
bilur dan galurnya.

Semua bisa ku rawat 
Semua biasa ku ruwat
Biar perih tertimpa air mata

Luka ini 
Hanya menambah kumpulan lain 
dari berbagai luka yang tertinggal 
Selaras alur masa

Yang paling pedih
Yang paling perih
Dan paling sedih 
Adalah ketika menyadari 
Bahwa semua luka
Berasal dari sebab musabab
Yang sama.  

Luka ini
Ku balut
Ku rawat
Ku ruwat
Sendiri

Biar perih 
Tersiram air mata
Yang fana

Jumat, 31 Mei 2024

SELAMAT DATANG KEMBALI

Di ujung sana
Kegelapan membuka
Menyapa
Mengucapkan salam

"Selamat datang kembali!"

BUKANKAH HARUSNYA SUDAH USAI?

Bukankah harusnya sudah usai?
Bukankah harusnya sudah selesai?

Tapi, mengapa hati tak berhenti
Untuk merasa nyeri, merasa sepi?

Diri masih enggan menerima
Hati masih enggan membuka 

Sudahlah ...
Hanya kembali bersendiri
Menguras airmata
Yang telah kering

Seret, kesat 
Keluar dari mata yang panas membara
Hilang diuapkan matahari
Sebelum jatuh menyentuh 
Bumi...

Keperihan ini bukan untuknya
Dia perlu dan harus bahagia!

Keperihan ini hanya untuk diri
Yang tak pernah bisa berhenti mencinta
Mengipas-kipasi asa
Yang sebenarnya hampa

MENCINTAI YA MENCINTAI

Mencintai ya mencintai
Kenapa harus repot dengan hal lain?

Menyayangi ya menyayangi 
Kenapa jadi riweh dengan yang lain?

Aku ya seperti ini
Mencintai tanpa tapi
Hanya merasai apa yang ingin dirasai
Hanya mencicipi yang hendak dicicipi

Perkara lain?
Perkara punya siapa
Perkara mau tak mau
Perkara bagus tak bagus
Perkara bohong tak bohong 
Itu apa?
Batu semua!*

Mencintai ya mencintai saja
Sampai jiwa tua terlunta!

                              *Dari puisi Chairil Anwar 

Kamis, 30 Mei 2024

MANUSIA BIJAK

Kitalah yang dengan congkak
Menjuluki diri sendiri
Sebagai manusia bijak

Kitalah 
Yang tersisa
Yang lain akhirnya kalah 
Pada punah

Kitalah dengan keangkuhannya
Melintasi waktu demi waktu
Entah nanti menuju kepunahannya sendiri
Rebah merebah menjadi tanah
Atau malah mengangkasa
jadi warga semesta
Warga antariksa
Orang-orang bintang?!

Kitalah yang merasa seolah perusak bumi
Membuat planet ini sakit 
Menggerogoti setiap sumber dayanya
Lalu dengan sombong dan lantang berteriak:
"Selamatkan bumi!"
dan segala slogan yang menjadikan diri kita sebagai sang penyelamat kehidupan. 

Sementara pernahkah kita bertanya, apakah bumi akan selesai andaikan kita, si manusia yang (katanya) bijak, musnah dalam alur sejarah, lesap dalam arus waktu atau hilang sama sekali akibat ulah nya sendiri?

Apakah bumi akan binasa ketika kita tak lagi jadi pemimpin, Khalifah di wajahnya  yang tua seumur 4 milyar tahun?

Apakah mau kita mengakui bahwa kitalah, manusialah yang sebenarnya takut dengan segala perubahan di planet ini sembari berteriak-teriak merasa hebat bisa menyelamatkannya?

Karena, ketika segala pemanasan global, perubahan iklim, kenaikan suhu bumi, kenaikan muka laut, koyaknya lapisan ozon, punahnya hewan dan tumbuhan, pergeseran lempeng benua, berubahnya kutub bumi dan segala macam yang mengerikan terjadi, kita jugalah yang merasakan, menanggung akibatnya!

Kita yang layuh rapuh
Sekali tetak juga jatuh seperti kata Chairil Anwar 
Hanya tenggelam dalam waham kebesaran sendiri
Mengganggap diri si paling bijak, paling baik, paling sempurna,
padahal hanya satu mahluk diantara milyaran yang pernah mengisi bumi
Dikutuk oleh kesadaran yang muncul dalam pikiran
Lalu menganggap dan menamai diri sebagai Manusia Bijak
Homo Sapiens.

Kitalah dia
Manusia.



Senin, 06 Mei 2024

HARAPAN ADALAH RACUN

Harapan adalah racun
Yang membunuh pelan-pelan 

Harapan datang dari keinginan
Keinginan lahir dari obsesi 
Obsesi diawali kebutuhan 
Kebutuhan untuk bertahan
Kebutuhan untuk Ada

Harapan adalah racun
Yang membisiki diri
Dengan ilusi dan imaji
Mengata-ngatai 
Mengisi diri
Tanpa memberi opsi

Ingin berhenti berharap
Harapan hanya memberi makan
Ego yang kelaparan
Terlalu banyak meminta
Bahkan pada satu yang mungkin
Takkan bisa pernah diraih
Selamanya.

Hanya sekadar mengisinya
Dengan harapan kosong 
Sekosong rongga
Di dada
...


Jumat, 03 Mei 2024

AKU TAK HADIR

Aku tak hadir 
Di setiap mimpi-mimpinya
Aku tak ada
Di setiap gerak lakunya

Aku punah merebah
Dalam rima iramanya
Aku bisu 
Dalam deras doanya

Aku tiada dalam pikiran-pikirannya
Aku sepi dalam rindu-rindunya

Aku hilang dalam gelisahnya
Aku musnah dalam resahnya

Aku hanya manusia biasa
Bukan pelakon utama 
Dalam kisah-kisahnya

Hanya kilas kilat lewat
Mencoba menawarkan terang
Di tengah duniamu 
Yang kilap gemerlap.

Menerangi terang
Yang sudah terang
Bagai sebatang lilin
Di tengah siang

Aku tak hadir
Dan tak pernah hadir 
...

BINTANG DIPELUK KABUT

Bersinar
Tak harus benderang 

Tampak
Tak mesti terlihat

Ada 
Tanpa perlu mengada

Mengisi masa
Dengan cahaya

Menjadi petunjuk
Di malam buta

Sudah terang
Tanpa perlu terang terangan

Bintang dipeluk kabut
Tetap juga bintang

Bintang bertabir awan
Masih juga bintang

Benderang 
Dalam gelap angkasa
Di kesunyian alam semesta

Tak terjangkau
Dalam rentang
Bentang tahun cahaya

Tak ada yang mampu 
Menuju dia

Tak ada yang mampu
Mengusir kilaunya

Jauh
Namun memengaruh

Bintang di langit
Dipeluk kabut
Dikurung awan
Dipenjara jarak
Ruangwaktu

TAHU DIRI

Tahu diri untuk berhenti
Biar perih menghiasi
Biar sepi menemani
Biar takdir menghakimi

Tahu diri untuk berhenti 
Walau kehendak menyesak
Keinginan memaksa
Asa dan harapan memabukkan

Tahu diri untuk berhenti
Dengan segala sakitnya
Sebak merebak
Amarah menggelegak

Tahu diri untuk berhenti 
Menyudahi mimpi-mimpi
Biar keinginan kemauan
Masih panas menyala-nyala

Membakar
Menghanguskan
Menyiksa 
Mematikan

Tahu diri
Untuk berhenti 

Menahan diri
Menahan hati

Kamis, 25 April 2024

KAU

Kau adalah harapan
Yang  di gaung-gaungkan 
Dalam deras daras doa 
setiap hari

Kau adalah api 
Yang menghangati
menyalakan hati
Yang hendak mati

Kau adalah mimpi-mimpi 
Yang lahir dalam sepi 
Jauh dari bau birahi

Kau adalah cinta
Yang paling nyata
Diantara semua 
yang fana dan tak bermaya 

Kau adalah kidung indah 
yang terdengar
Lagu merdu mendayu
Mengelus-elus hati 
Dengan nada dan puisi

Kau yang membuka kembali 
Pintu asa dan jendela
Rumah tua yang terlunta
Di relung jiwa

Namun
Kau juga 
Yang kembali mengoyak luka
Dalam alur sejarah
Dan tema percintaan 
itu-itu saja

Kau torehkan luka
Di atas luka lama
Menambah silang menyilang berbilangnya 
Berbumbu duka dan air mata...

Namun semua
Pada akhirnya
Aku juga yang salah 
Aku juga yang lemah
Aku juga yang guyah
Tak mampu jua
Menggoreskan cinta
Mewarnai jiwa
Dengan rasa

Senantiasa 
Bersikap seadanya
Tanpa kesan dan pesan
Yang mendalam
Yang menggenggam

Minggu, 21 April 2024

HARI TERAKHIR DI DUNIA

Apa yang kau lakukan
Ketika tahu
Ternyata hari ini 
Adalah hari terakhir di dunia?

Apakah berlari-lari
Sembari bertangis- tangis 
Mencari benteng terkuat
Bungker terdalam
Gedung terkokoh?

Berdoa hingga suara
Habis terkikis 
Menadahkan tangan
Memohon ampun
Atas dosa-dosa 
Yang berkarat mengikat?

Atau sekadar jatuh tersungkur
Menyesali segala yang ada
Menangisi yang telah terjadi?

Atau mencari
Memeluk orang-orang yang dicintai
Sembari pasrah menanti 
Sang maut menghampiri
mencabuti?

Apa yang kau lakukan
Ketika tahu 
Ternyata hari ini
Adalah hari terakhirmu?

Kamis, 18 April 2024

Kamis, 11 April 2024

Mempercayakan rumah
Sebagai bunker terkuat
Yang bisa menahan kiamat sekalipun

Rabu, 10 April 2024

Sabtu, 06 April 2024

Rabu, 03 April 2024

TIRANI WAKTU

Tirani waktu
Dengan lajunya yang bengis
Beranjak meninggalkan segala

Tirani waktu
Mengurung segala
Menjajah hingga punah

Menggilas yang tertinggal
Menggiling yang terbata
Meninggalkannya tanpa rasa iba
Mendudu melaju
Membawa sesiapa
Yang mampu 
Untuk bergantung 
Menyesuaikan diri 
Dengan gelora masa

Tirani waktu 
Jadi bengis melumat sesiapa 
Yang terlupa dan dilupa
Membiarkannya merana
Di tengah pelupaan dan pengingkaran
Yang menjadi racun melenakan

Tirani waktu
Laju menggebu 

HARI TANPA HUKUM, HARI TANPA MORAL

Ingatkah pada suatu hari
Di suatu masa
Dimana hukum dipunggungi 
Di belakangi?

Ingatkah pada suatu hari
Dimana moral dilupakan
Dicampakkan
Dipinggirkan
Diabaikan?

Ingatkah pada suatu hari
Dimana langit digelapkan
Ditutupi asap-asap hitam
dari segala apa yang bisa dibakar, terbakar
Sehingga orang-orang menjadi berani
Seolah Tuhan telah dibutakan
oleh debu dan jerebu yang menyesak udara
Seolah Tuhan telah merestui
Segala gerak dan tindakan.

Ingatkah suatu hari
Dimana segala iri dengki dibebaskan
Segala amarah dilepaskan
Segala dendam dilampiaskan
Segala nafsu dipuaskan

Segala aparat dan penjaga 
Pengayom dan pelindung
Seolah buta
Memalingkan pandang
Memunggungi

Membiarkan api menyala membakar
Menghanguskan apa saja
Siapa saja.

Ingatlah dihari hukum dipalingkan
Justisia dihempaskan ditanah berlumpur
Dengan mata masih terbebat
Namun tangan erat terikat
Diruda paksa
Tanpa peduli suaranya yang meraung-raung 
Diselingi rintih kesakitan

Ingatkah saat itu?
Atau kau belum lahir
Lalu menganggap semua 
Hanya sekadar cerita orang-orang tua
Tinggal cerita lama?

Ingatkah kita?

Semoga ingatan itu tetap ada
Biar pedih perih menyakiti
Sebagai pengingat
Sekaligus doa 
Untuk yang jatuh, terbunuh
Atau rapuh dalam trauma yang tetap selalu ada

Sekaligus doa
Agar tragedi perih ini takkan pernah
Terulang lagi.

Entah sekarang
Entah di masa akan datang

Ingatkah?
Ingatlah!




Minggu, 17 Maret 2024

SAAT SENJA MENJELANG DAN AKU MASIH BERDIRI DI SiMPANG

Saat senja menjelang
dan aku masih berdiri di simpang
jalan yang bercabang-cabang

Di ambang rembang petang
Mentari mulai hilang
Kegelapan menjelang
Menjemput malam yang
Hendak datang

Namun masih di sini aku
Di jalan simpang yang bercabang-cabang

Kaki membatu
Langkah beku
Sementara senja
Jadi semakin tua

Disaat senja menjelang
Saat orang beranjak pulang
Mengemasi sisa-sisa pekerjaan
Mengumpulkan sisa-sisa perbuatan
Membersihkan sampah-sampah
Membereskan remah-remah 
Dengan hati penuh riang
Tanpa bimbang

Tapi Aku di sini
Masih berdiri
Di simpang
Di ambang rembang petang

Ragu dengan pencarian-pencarian
Beku dalam pemikiran-pemikiran 

Jumud dalam resah nan begah












Kamis, 07 Maret 2024

PEREMPUAN SELALU MEMBUATKU LUPA

Perempuan selalu membuatku lupa
Dengan keliyanannya
Perempuan selalu membuatku lupa
Dengan keindahan rupa dan pesona

Perempuan seanggun aliran air*
Yang mengalir turun
Melewati lereng-lereng
Dari mata air abadi di puncak bukit

Aku terlanjur jatuh hati
Pada tiap gerak dan tutur kata
Tatap nan teduh
Senyum nan luluh
Bius yang mengalir dalam darah

Perempuan selalu melenakan
Dengan lembut sikap semestinya.
Binar pada mata yang juga tersenyum
Saat bibir tipisnya memekar tawa

Aku selalu mabuk
Dalam keindahan
Tanpa peduli atau sadari
Mungkin ada air mata tersembunyi
Mungkin ada sakit di hati

Hanya menatap dari luar
Yang mungkin  ada luka di menganga
Yang ditutupi senyum dan tutur bahagia

Bukankah perempuan adalah 
pelakon terbaik?
Pemain peran luar biasa
Menampilkan apa-apa yang berbeda
Dari apa yang tersimpan di dada, 
di lubuk jiwa?

Perempuan selalu membuatku lupa dengan keliyanan dan kecantikannya.
Membuat lupa, membuat mabuk
 
Mabuk cinta!

* Dari Belantara, Liu Cixin

Rabu, 07 Februari 2024

Di tengah genangan buku
Dan kertas-kertas
Sisa pertempuran ganas
Pikiran.

DIA TERSENYUM BAHAGIA

Dia tersenyum bahagia
Entah apa yang membuatnya bahagia 
Senyum terpancar
Jadi sinar
Yang menerangi sekitarnya

Dia tersenyum bahagia
Entah apa yang membuatnya bahagia
Entah kabar dari si dia
Atau cumbu rayu di ujung sana

Apa yang membuatnya bahagia?
Bagaimana caranya?

Aku dalam perjalananku
Diantara langkah kaki 
dan tatapan yang hanya bisa mencuri
Diantara jarak merebak, meretak
Melebar membabar,

Menghabisi hari
Dengan tanya tak henti

Apa yang membuatnya bahagia?
Bagaimana caranya?

Inginku aku yang membahagiakannya
Dengan segala daya dan upaya
Dengan segala canda dan tawa
Dengan segala benda bahkan dunia yang kau pinta

Inginku aku yang membahagiakan mu
Dengan berupa pola dan makna
asa dan cinta

Inginku aku...

Dia tersenyum bahagia
Entah untuk siapa ..



Jumat, 02 Februari 2024

KETIKA DUNIA TAK PEDULI DAN KITA PUN TAK PEDULI PADANYA

Ketika dunia tak peduli
Dan kita pun tak peduli padanya
Ketika itu semua terasa indah 

Bersembunyi kita di sudut kota ini
Di kamar sempit dalam rimbun unggun  buku
Diantara nyala birahi yang lekas naik lekas pudar 
Kita berdua duduk di atas kasur Pesing penuh kutu
Berpeluk bertukar cucup dan kecup 
Entah cinta atau nafsu yang membantu
semua jadi tampak cerlang gemerlap 

Ketika dunia tak peduli
Dan kita pun tak memperdulikannya
Ketika semua asa, cita-cita, dilapisi berahi
Ketika yang paling buruk dan busuk pun
Menjadi cantik dan elok...

Ketika dunia tak peduli
Dan kita pun tak memperdulikannya

Ketika itu semua masih gagah dan indah
Ketika itu cinta masih menjadi raja dan ratu di hati
Ketika itu nafsu berpadu rindu
Melawan garangnya tirani ruangwaktu
Melawan dengan idealisme setinggi gunung
Mencuri-curi masa peristiwa
Mencurangi segenap aturan dan norma

Menggelegak darah muda
Dijerang letap letup libido
Sekali lagi, menghias borok dan kusta  
Dengan lapis manisnya dosa.

Kini, ketika semua
Dilihat dari mata sekarang
Yang tinggal hanya sesal tersengal
Hidup tak sesederhana yang dipikirkan
Hidup tak semudah yang dibayangkan
Bangunan cinta yang kokoh
Roboh juga digerus kala
 
Masa muda hanyut 
Terbawa arus entropi yang tak kenal henti 
Semua yang dulu tampak sempurna
Kini hanya permainan dan senda gurau sahaja

...

Kenangan hanya tinggal
Sesekali datang menghantu
Berusaha menghangati hati
Dengan memori tentang satu masa 
Ketika dunia tak peduli 
Dan kita pun tak memperdulikannya...




Senin, 22 Januari 2024

AKU HANYA BISA

Aku hanya bisa
Mengagumi dalam puisi
Dalam sepi gerak hati
Bersendiri tersembunyi
Dengan nada dan Rima
Yang terasa hampa

Aku hanya bisa
Menatap diam-diam
Dalam suram pikiran

Aku hanya bisa
Menatap dalam diam


Sabtu, 13 Januari 2024

KETIKA SEMUA TERASA BIASA

Ketika semua terasa biasa
Ketika yang kilap gemerlap tampak lindap
Tiada lagi fantasi
Tiada lagi sensasi

Semua terasa tawar
Semua debar terasa hambar
Semua jadi rutinitas
Yang lepas menggegas

Tak ada lagi rasa 
Tak ada lagi gelora

Ketika semua berujung pada pulang
Membaringkan tubuh yang leta
Meletakkan kepala yang semakin sering
berdenyut di bantal
Meletakkan semua beban di luar rumah

Ketika semua semakin jauh
Mimpi, hasrat, harapan kian pudar
Tertutup katarak mengaburkan
Tertahan asam urat mengakukan

Tulang belulang terasa sengal
Nafas pupus tersengal-sengal 

Ketika sakit dan nyeri
Semakin rajin menghampiri
Ketika sakit menjadi sinyal
Teriakan sunyi meminta perhatian
Tanpa bahasa tanpa kata.

Ketika segala komplikasi
Mengumpul mendesak-desak
Menggerogoti sistem yang melapuk
Digerus arus entropi

Ketika maut menjadi rindu
yang ditunggu-tunggu 
Ketika ajal jadi rekan yang diharap-harap

Ketika mati menjadi kunci menutupi...





kosong hampa  Lazuardi tanpa makna melahirkan lara