Mentari membuka mata di timur sana
dersik angin membelai mayapada
candramawa luruh tersiram arunika
dunia menyala dalam gelora adiwarna
Pagi tiba
nirmala tanpa luka
sempurna membangunkan diri
dari lelap di ujung malam
dari mimpi-mimpi perihal dara wanodya
yang menggetarkan Sukma
Saatnya berganjak
penuhi benak dengan eunoia
hadirkan simpati untuk sesama
mudita menghela rasa
kurung dan lupakan iri dan dusta
Lalui siang dengan usaha
kerja keras, kerja pintar
Saat hujan datang mendera
nikmati petrikor, hirup aromanya.
Perlahan senja datang menjemput
swastamita menghibur jiwa
menyambut malam yang akan turun
menebar selimut hitamnya
mendinginkan raga membara
Menatap bulan yang menemani
mangata panjang terbentang di bawahnya
riak lirih air nan mengguncangnya
Terlibat senandika seorang diri
mengurai derita dengan derana
menganugerahi kusala, kanigara
pada diri yang letih
sebagai panasea mangkus
sangkil ke lubuk paling dalam
jiwa paling dalam.
Wahai jiwa yang Bestari
tidur lah kau istirahatlah
istirahatkan kata, raga dan jiwa
berkemaslah untuk terbenam
dalam pelukan tidur yang lenyak
Agar siap menyambut esok
dengan segala rupa
kemungkinannya.