Jumat, 08 Januari 2021

PAGI PERTAMA

 malam telah meninggalkan kamar yang teranja-anja oleh rasa. 

fajar sidiq, pita putih itu, telah membentang

di balik awan-awan hujan.

subuh yang dingin,

memberi alamat dan kesegaran baru.

sebuah hari yang optimis.

kita berdua. 

kau yang membangunkan aku

dengan hangatmu.

sekeping senyummu tulus

sisa peraduan malam pertama kita.


ini adalah hari,

ketika sisi ranjangku berisi

untuk pertama kali.

ini pagi pertama kita.


dik, mungkin tak setiap hari pagi begini

mungkin tak setiap pagi indah begini

tapi ku percaya janji mu, seperti kau percaya

bahwa kita akan menempuh gelombang hidup kehidupan

pasang surut keras menghempas

dengan jari bergenggam, hati bergenggam, jiwa dan raga.


dik,

aku janji.

aku naik saksi!

kau tersenyum, selembut cahaya matahari yang mulai merekah menjamah tanah.

lalu matahari itu turun di hati kita.

inilah mungkin waktu dimana kata-kata

tak bernyawa, tak berasa!

 

16 oktober 2007


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kosong hampa  Lazuardi tanpa makna melahirkan lara