Rabu, 27 Oktober 2021

KAU DI MANA?

dalam kegelapan benakku
karam dalam kekalutan dan ketidaktahuan
tanya membahana
kau di mana?

ku cari kau bernanah resah
ku cari kau berkuah gundah
tak sedikit jua sosokmu tampak
menggeretak menghentak

kau di mana
mengapa menghilang
mengapa pergi?
 
tak sadarkah kau
betapa besarnya peranmu
mendinginkan hati
yang kini kian tak terkendali?

atau ini cara
atau pesan 
atau petunjuk
atau manual
atau apalah
yang menyuruhku berhenti
mengubur segala rasa
menanam harapan
yang tertuju
terus tertuju 
kepadamu
hanya kepadamu
?
atau sudah tibakah waktunya untuk berhenti, bahkan sekedar sedikit melihat wajahmu, tatapmu, senyummu? 

aku hanya ingin sedikit percik 
bara api, bunga api
yang menyalakan kegelapan
sekilas saja
menerangkan
menerangi
pelataran
muka bumi hati
yang sepi
...



Rabu, 20 Oktober 2021

SUDAHLAH

sudahlah 
kembali kata itu terucap
berusaha menenangkan badaibadai
berusaha memadamkan api nyalamenyala
berusaha meredam eram
nafsu yang menggeram

sudahlah
cukup sampai di sini
cinta menutup pintu
jendela tetap ingkar
diri terkurung di luar

sudahlah
kata itu membasah di lidah
jatuh tercurah
menyiram amarah

aku memang lemah
produk gagal evolusi
 
tak mampu menjalankan tugas mulia
bereproduksi
mengkopi jenis diri
menjadi alat-alat 
oknum-oknum
agen-agen
penyebar energi

tak mampu unjuk diri
menjadi yang terbaik
diantara kawankawanannya
tak cukup mampu 
memperlihatkan pesona diri.
sulit untuk dicintai
dikasihi...

aku lemah
sekedar anomali
lekat berbalur mimpi
yang tak pernah mampu terealisasi
terpuruk terkurung, teralienasi!

sudahlah.
kata lelah menyerah.

Selasa, 19 Oktober 2021

UNTUK KU (Bukannya cinta harusnya...)

bukannya cinta harusnya menyenangkan?
bukannya cinta harusnya membahagiakan?
meneduhkan, mendamaikan
menenangkan?
karena, bila cinta kehilangan itu semua 
dia bukan lagi cinta
hanya sekadar nafsu, obsesi, keinginan memiliki.

tidakkah kau ingat?
bagaimana hati pertama berdesir
jantung yang lebih keras memacu
ketika memandangnya?

tidakkah kau ingat
bagaimana pertama menyadari
pesona-nya bagai purnama
di tengah langit malam  tak berawan 
dikelilingi bintang-bintang berkedip menawan?

tidakkah kau ingat rasa itu?
hangat menentramkan hati
tentram dalam khayal
membayangkan tatapan dan senyuman?

bahagia itu sederhana
sekadar sedikit menatap 
sedikit mengharap

lalu mengapa sekarang kau tukar segalanya dengan sebuah keinginan  memiliki utuh sepenuh-penuh?

bukankah cinta harusnya membebaskan
memberikan sayap untuk terbang menentang rintang?

bukankah cinta harusnya berujung bahagia
menjadi sebuah pelabuhan tempat bersandar kapal-kapal dari terpa badai samudra?

tapi, mengapa cinta jadi penjara, 
tanpa dinding tanpa pintu tanpa belenggu namun jua maha kuasa menahan 
segala rasa yang terus menerus haus mendamba?

mengapa cinta terus meminta
mengharap pada gelap yang kerap
mengubur dengan dera dan seksa?

aduhai aku
yang terus mengagungkan cinta
biarpun perihnya menguras air mata!





Rabu, 13 Oktober 2021

AIR MATA

 air matamu

jadi manik-manik

di pelataran jiwa ku

yang lengang


ada cerita 

yang tak terucap di sana


angan

angin

labur luruh

bersama isakmu

perlahan

nyata

jadi bisa

di hati ku yang hampa


sudahilah air mata

juga deru kata-kata


aku lelakimu

yang bersiap mengusap pesat

segala sedu sedan sedihmu!

SAYUP SEPI JANJI

 jadi sayup sepi di sini

"apa?! segala sepi?!"

tak ada yang menemani


waktu membilur biru

malam dan anginnya yang dingin menempeleng

berkerendap kilat di kejauhan

menggumam, guntur menggeram

hanya itu

tapi jiwa gemetar!!!


jadi sayup di sini

bergelimang sepi


"apa?! segala janji?!"


hati mati menunggu janji. 

MALAM GERAH

 "aku begitu kosong kini..."


di malam yang gerah

dan bulan yang memancar resah

adinda terbayang

di tiap sudut hasrat jiwa

yang terjebak, terkapar dan sepi


cintaku hanya pelabuhan gelap

tak berlampu

sepi dari suka dan teriakan kelasi 

yang menjejak langkah


aku terkurung bisu

dari hati yang mengucapkan selamat datang


di angin mati dan laut diam

aku berbisik lirih....

TIADA LAGI

 tiada lagi.

senja muram

sisa-sisa hujan

basah dan sayup


tiada lagi.

angin meniup tajam

murung memeluk

hati berkelana di lorong gelap


tiada lagi.

langkah menapak

melewati sudut-sudut gelap

                                    dan becek


kesedihan mengapung


tiada lagi.

senja ini membunuhku

perlahan



BINTANG KECIL

 bintang kecil

genit di langit

mengerdipkan manjanya

kepadaku yang membuka jendela


adakah harap 

yang dikerlipkan sinarnya?

apakah cinta

yang di ajuk sejuknya?


bintang kecil

senyam senyum sendiri


di sini

di bumi manusiaku

aku memandangnya dengan gemas.

JANGAN RANTAI-RANTAI ITU...

 jangan rantai-rantai itu kau kalungkan ke leherku. sayangku, tiada guna tubuh indah terdedahmu kau biarkan, melancarkan diri mencari pelukan hangat.

bukan, bukan kurang indah, tapi pelayar hidup ini ingin pijak dunia, melayari tiap ujung laut, mencecapi tiap rasa gelombang, mencari makna dan nada.

jangan, jangan kau kalungkan kecup, peluk cucup. 

aku kan kembali -mungkin?-

sebelum senja tenggelam

dan malam jadi semakin malam


                                                                                                                           24 maret 2001


TERTATIH

tertatih langkah menapak

di tanah kering meretak


tanya mengoyak benak

mengapa, ada apa?


langkah lirih terhenti

wajah menyimpan cerita

galur-galur cemas terbaca 


di dada

ya, di dada 

menyeruak segenap rasa

menggelegak segala rupa


aku ingin jadi lelaki yang mampu membalut semua luka

aku ingin jadi lelaki yang mampu memanggul beban dunia

aku ingin jadi lelaki yang mampu membasuh semua air mata

aku ingin jadi lelaki yang ada 

meng-ada disetiap massa luka menganga


meng-ada selalu di sampingmu


aku ingin jadi lelaki...


tertatih langkah menapak

di tanah kering meretak...




Kamis, 07 Oktober 2021

AKU HANYA ADA

aku hanya ada

sekadar ada


sebatang tubuh yang lengang

menatap lancang

dari balik jendela 


aku hanya ada

sekadar ada


sebatang tubuh bernafas

di kamar sempit menjejas


hujan mecerat

dingin menjerat


aku hanya ada

di dunia menggila

dengan segala luka nganga

 nyata terpeta


sekedar menjalani 

putaran

ikalan

jeratan

kutukan

Rabu, 06 Oktober 2021

KOSONG!

jika teramat perih menjalaninya
sudahlah!

penyair merangkai kata-kata
dari puncak istananya

membangunnya tegak dalam mimpi
yang tak lampias

kosong!

mengetuk menggema suara
dari peradaban yang sakit

angkuh!

duduk di singgasana
gemerlap tapi senyap

buyar semua buyar
penyair kehabisan tinta dan kertas!

                                         9  november 2000

SERIBU BINTANG

tunailah sudah janji hati
permainan kata oleh cinta
aku merangkai puisi
dari tiap gerak jiwa

tinggal taman tua
dan tatapmu yang tajam menikam
di sini
di sempitnya nafsuku

aku hanya satu bintang
diantara seribu yang bersinar terang
menanti tangan halusmu memetik
menjadikan yang terbaik
sebagai pelita malammu

aku hanya satu bintang
diantara seribu
yang kian meredup
dan perlahan pudar.

Sabtu, 02 Oktober 2021

INI HANYA LANGKAH...

ini hanya langkah membelah jengah.

malam menindih
dilawan terang lampu jalanan
terang nyalang membosankan
kendaraan lalulalang. Juga orang.

Sepi tapi.

Entah di sini. Entah di hati.
Menyusur jalanan. Memandang manusiamanusia
Memasang topeng kaku diwajah yang tergerus luka.
ada juga memasang tawa
Tapi entah apa di dalam jiwa

Belum habis.
Langkah menyelisih
Bayangbayang memanjang
Lelampuan kuningterang
Bagai pemandangan ketika demam.

Sendiri dengan diri.

Ada pintu terbuka, banyak pintu menutup
Tapi tak hendak tangan mengetuk
Dan tak ada yang mengundang masuk

Langkah  melengah
Menapak trotoar jalanan
Menguarkan aroma parit
lembab panaskatulistiwa

Mata mencaricari
Namun kadang tertunduk sepi
Gelak manis tutur bergula
Bibirbibir merah bagai membara
Di ujung rukoruko meremang miang

"Wahai lelaki, singgahlah dimari
Hangati kami yang terkubur sunyi"

Suara janggal
Nafsu terlalu usang untuk dipeluk, diolah dan dipermainkan.

Ini cuma sepi 
Dalam alienasi

Cinta, mampukah kau membuka pintu?

hingga terbebaslah
Dari penjara tanpa jeruji
                                   tanpa kunci
Dari belenggu tanpa pintu
                                   tanpa waktu


    






kosong hampa  Lazuardi tanpa makna melahirkan lara