Kamis, 19 Agustus 2021

PAGI KEDUA

di luar hujan

kilat menggerayangi langit

suaranya begitu jauh

pagi yang dingin

ditingkahi ritmis gerimis

memerdu di hati kita


pagi larut berbungkus kabut

kita masih di ranjang. berpelukan.

bulan madu belum usai.


kau begitu hangat dalam dekap ku

membawa harapan di antara dingin dan hujan


ini pagi kedua kita dik.

aku belum jemu-jemunya menatap wajahmu yang bermanja              

menikmati sentuhan dan dekapan 

bertukar kehangatan


kau yang menganggap tubuh kurus lemahku ini 

sekokoh benteng yang perkasa

tempat berlindung dan sempurna,

membarakan segenap harga diri,

menyalakan kelaki-lakianku 

untuk menjadi

dan menghadirkan

versi terbaik dariku

hanya untukmu, 

untukmu!


aku belum jemu-jemunya              

mengecap cinta yang kita manifestasikan 

dalam sebuah ikatan suci bernama pernikahan

yang semoga langgeng dan kekal 

hingga ke ujung waktu kita, 

melahirkan keturunan-keturunan 

yang mewarnai wajah dunia 

dengan kebaikan-kebaikan dan keindahan-keindahan.


aku belum jemu-jemunya

dan tak akan jemu-jemunya


semoga.


diluar hujan mulai berhenti

matahari menyinar malu-malu

mengajak kita keluar kamar

memulai hari ini...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kosong hampa  Lazuardi tanpa makna melahirkan lara