Sabtu, 28 Agustus 2021

JIKALAU

jikalau ada kesempatan mewujud kembali...
mungkinkah tercipta semesta baru
tempat kita berdua bersatu?

jikalau ku iyakan saja lamaranmu kala itu
seperti apa semesta ini?
apakah jadi seperti sekarang yang kutinggali
ataukah jadi sesuatu yang baru?

yang jelas kita akan berdua melayari hidup
dengan segala dera dan coba suka dan duka
  
apa kita bahagia?

jikalau kuikuti kata hati
seperti apa yang terjadi?

apakah keputusan ku
apakah pilihan ku
melahirkan calon-calon semesta
yang mewujud berdasar pilihanku?
atau bisakah ku reset pilihanku
ku undo keputusanku
lalu mencari alternatif terbaik
dari multi semesta yang membelah di langkahku?

jikalau aku tak perlu berpikir tentang ini...


Rabu, 25 Agustus 2021

RUMAH JADI SEPI

rumah jadi sepi
tak ada lagi yang menghiasi
dengan derai tawa dan nganga luka

semua pada pergi
mengemasi hati
dan mimpi

menuju perjalanan baru
episode baru

rumah jadi sepi

tinggal kembali berdua
seperti pertama
saat membangun asa 
dan cita 

kau yang kian menua
aku yang kian menua

terlunta di jalur masa

rumah jadi sepi.

Kamis, 19 Agustus 2021

EKSTASI

terasa kesunyian tiba
pekat 
nyata

badai baru berlalu
terkapar menelentang.
di sebelah, 
buku terdedah
meninggalkan pikiran-pikiran menggila
di kepala

logika tumpah
hampir habis
tapi tak pernah habis
terisi pemahaman baru 
pemandangan baru

sedikit celah 
malah memperlihatkan
semesta lain
yang lebih pekat
lebih gelap

tengah malam makin sunyi
dan misteri
tetap jadi misteri...

SORE HUJAN HINGGA MALAM

sore hujan hingga malam

menggigil tiap insan

dalam kuyup mencari teduh

di emper-emper ruko yang hendak tutup


langit hitam

hati muram.


cukuplah kutuk dalam hati

ganti berganti dengan gerutu

ada yang mencari hangat dengan cerita

rekan disebelah yang entah siapa

tetiba jadi sahabat sepanjang masa.


tangan melipat di dada

mencari hangat pada tubuh ringkih


hujan masih keras menderas

menghantui atap dan jalanan


angan menyatukan detik

jadi menit dalam lamunan

penantian semakin panjang

dan dalam...


sore hujan hingga malam...



DI BALIK PUNGGUNGNYA TERLIHAT SAYAP

 di balik punggungnya terlihat sayap.

 gadis kecil lusuh berdarah.

sayap yang melebar terbuka 

siap terbang mengangkasa


tanah itu datar saja

seolah sebelumnya tak pernah ada

yang tegak di sana


menengadah.


garis batas pantai, laut, daratan, punah


dan dia berjalan,

gadis kecil tak bernama

berkalung luka

sedikit goyah menapak

sayapnya mengepak-epak

siap meninggallandaskan

impian dan hidup

yang sempit menjepit


lalu hilang.

hilang!


orang-orang lalu lalang

dengan urusan dan duka masing-masing

tak melihat sedikit

gadis kecil bersayap angsa

lusuh tak bernama

membumbung mengangkasa


di langit

ya, di langit

dia berhenti sebentar

menatap kebawah

kearah reruntuhan dan gumpalan lumpur hitam

yang dulunya kota

ke arah orang lalu lalang dengan urusan dan duka masing masing

bergumam dengan kata tak tereja

lalu melesat

menerobos angkasa bercahaya

tak kembali...

                                                                                   (luka aceh adalah luka kita...)

                                                                                                             Januari 2005

AZAZIL

 dia yang dicampakkan ke bumi 

bersama adam dan hawa


dia suara sumbang

di tengah lagu bernada sama


dia yang membelah diri

mengutus faksinya ke penjuru mata angin


dia yang terkutuk dan dikutuk

yang ditangguhkan kematiannya


dia dengan dendam 

dan nafsu berkarat


dia yang sendiri 

dalam keabadiannya

menanti hukuman 

atas sebuah kesombongan

sembari mencari

pengikut sebanyak-banyaknya


dialah perlawanan

terhadap monarkhi

monarkhi absolut lagi!


dia adalah kekalahan

dari sebuah kemenangan


kemenangan menyatakan isi hati

kemenangan kekalahan!

DATANGLAH DATANG

datanglah datang

dan lihatlah bagaimana aku di sini menanti

menggelegak dalam rindu

mabuk dalam pesona

dirimu


aku jatuh ke dalammu

ke dalam lubuk jiwa

dan tatapan mata


matahari yang nyalang

tak cukup terangkah menelanjangi hasratku, niatku?


aku, terjangkit cinta!


denyut jantung, desiran darah

belum utuh menjadi hidup tanpamu!


perlahan ku kenakan rasa

kusiapkan hati dan jiwa

untuk membuka pintu


menyambutmu.



PAGI KEDUA

di luar hujan

kilat menggerayangi langit

suaranya begitu jauh

pagi yang dingin

ditingkahi ritmis gerimis

memerdu di hati kita


pagi larut berbungkus kabut

kita masih di ranjang. berpelukan.

bulan madu belum usai.


kau begitu hangat dalam dekap ku

membawa harapan di antara dingin dan hujan


ini pagi kedua kita dik.

aku belum jemu-jemunya menatap wajahmu yang bermanja              

menikmati sentuhan dan dekapan 

bertukar kehangatan


kau yang menganggap tubuh kurus lemahku ini 

sekokoh benteng yang perkasa

tempat berlindung dan sempurna,

membarakan segenap harga diri,

menyalakan kelaki-lakianku 

untuk menjadi

dan menghadirkan

versi terbaik dariku

hanya untukmu, 

untukmu!


aku belum jemu-jemunya              

mengecap cinta yang kita manifestasikan 

dalam sebuah ikatan suci bernama pernikahan

yang semoga langgeng dan kekal 

hingga ke ujung waktu kita, 

melahirkan keturunan-keturunan 

yang mewarnai wajah dunia 

dengan kebaikan-kebaikan dan keindahan-keindahan.


aku belum jemu-jemunya

dan tak akan jemu-jemunya


semoga.


diluar hujan mulai berhenti

matahari menyinar malu-malu

mengajak kita keluar kamar

memulai hari ini...



BAHKAN HARUMMU MASIH KU CIUM

 bahkan harummu masih ku cium


aku belum berhenti memikirkanmu,

kekasih sahabatku

aku masih belum berhenti!


ini seperti air keras

yang harus ku teguk

seteguk demi seteguk

membakar mengoyakkan

seinci demi seinci 

tenggorokan

sampai ke lambung

hingga kematian yang menghentikan!


ini  tapi seperti madu

yang ku cecap

sececap demi sececap

manisnya tertinggal di lidah

hingga sekujur sanubari


kau, kekasih sahabatku

tempat berlabuhnya rasa

yang tak pernah usai


cinta yang salah menempatkan diri,

menemukan alamat yang keliru!


dalam jiwaku, hasratku

lelahku, lemahku


kau, kekasih sahabatku

masih kurasakan hangatmu 

di ujung-ujung jariku

dalam gelinjang hasratku hasratmu

tempat sejenak kita berlupa

siapa kamu, siapa aku, siapa kita, siapa dia!


bahkan harummu masih ku cium

di tengah-tengah kesunyianku

di tengah-tengah sesal yang menuba jiwa!




BITTER AFTER

 Aku rasa begini:

pahit tiba setelah kutelan

sepotong demi sepotong

sekunyah demi sekunyah

seiris demi seiris


hidup punya macam-macam rasa, ku rasa

beda bagi sesiapa yang mengecapnya


ini bukan kesimpulan

baru hipotesis yang desis mendesis


pelangi punya tafsir sendiri.

begitu juga mendung yang gumpal menggumpal.

hujan, titik-titik air bagi kering yang jering 

atau genang-genangan comberan

yang main-main ke dalam rumah?


mungkin pahit

mungkin manis 

telan saja dulu


apa yang pahit belum tentu jadi pahit

apa yang manis belum tentu jadi manis.


begitulah.


catat! ini bukan kesimpulan

hanya hiburan bagi hati yang rawan.


DOSA ASAL

 pada mulanya adalah dosa...

menjelma nafas, menjelma nafsu

ular mendesis-desis

berbisik-bisik


dosa pertama

beranakkan dosa-dosa lain

dalam tatapan, sentuhan, belaian


tubuh terdedah


menggoreng pikiran-pikiran 

fantasi-fantasi

fetish nyalamenyala


pada akhirnya adalah dosa

terlahir, tercipta

menjadi lubang jurang

menenggelamkan

pikiran-pikiran

akal sehat

norma tata krama


ular mendesis-desis

ganti tertawa-tawa


pada akhirnya adalah dosa

yang menggucang-guncang sesal!

DEMAM DI TENGAH PANDEMI

 terjaga tiba-tiba

dari tidur tak sempurna

indra berkabut

kalut


malam dingin  ngelangut


pikiran-pikiran

berbiak di kepala

ditambah demam yang memanggang garang

kepala rasa meretak

vertigo!


di luar sunyi

tanpa bunyi

nyaris mati


bahkan nafas!


tetap gelap

tak tahu 

apa 


pagi belum tiba

belum...

                                                                                                Agustus 2007/Agustus 2021

BARBIE

hasrat hitam legamku

pada tubuhmu

dan celah diantara buah dada

pecah, punah dan binasa!


aku tua

sementara tubuhmu indah terdedah

bukan tak hendak menjamah

tapi cinta

jadi palung paling ngeri di sini


tak bisa kukatakan

apakah pasrahmu yang menjengah

atau lekukmu yang membuatku resah?


semua sama saja

karena cinta membisukan nafsu

bila memandangmu!

AKU DAN TEMANKU

                Aku bertemu teman lamaku pada suatu siang yang garang.  kami bertukar kabar dan cakap. anaknya satu sekarang, laki-laki! dia bekerja serabutan sebagai guru bantu dan memberi les privat bahasa inggris. dia bercerita, dengan mata menerawang namun bahagia,  tentang istri dan anaknya di kampung yang senantiasa menunggu dan mengganggu dengan telepon-telepon dan SMS rindu. dia juga sempat mengeluhkan harga-harga yang melambung, bagai ombak di malam berbadai yang seakan hendak membalikkan perahu rumah tangga yang kecil dan rapuh. dia tampak kurus, layu namun makin tenang, matang. 

             lalu dia bertanya "apa kabarmu?" aku tertunduk gagu. perlukah kukatakan bahwa tahun-tahun ini aku hanya sibuk membangun puisi serta mengejar mimpi-mimpi tentang masa depan gilang gemilang sembari hanya menelentang? 

            aku membisu. lalu percakapan kami habis sampai disitu.


                                                                                                                               4 Juli 2007

UNTUK KAMU (Jangan berhenti...)

 Maafkan aku yang menikmati

setiap kedekatan kita


harum parfummu

halus rambutmu

hangat kulitmu

massa tubuhmu


aku berusaha

menghentikan cinta

yang memang tak bakal kau indahkan


(sementara dia masih di sana...)


jangan takut manis

aku janji!


cuma, jangan salahkan 

hati kecilku yang terus berbisik


"jangan berhenti..."

kosong hampa  Lazuardi tanpa makna melahirkan lara