Sabtu, 28 Agustus 2021
JIKALAU
Rabu, 25 Agustus 2021
RUMAH JADI SEPI
Kamis, 19 Agustus 2021
EKSTASI
SORE HUJAN HINGGA MALAM
sore hujan hingga malam
menggigil tiap insan
dalam kuyup mencari teduh
di emper-emper ruko yang hendak tutup
langit hitam
hati muram.
cukuplah kutuk dalam hati
ganti berganti dengan gerutu
ada yang mencari hangat dengan cerita
rekan disebelah yang entah siapa
tetiba jadi sahabat sepanjang masa.
tangan melipat di dada
mencari hangat pada tubuh ringkih
hujan masih keras menderas
menghantui atap dan jalanan
angan menyatukan detik
jadi menit dalam lamunan
penantian semakin panjang
dan dalam...
sore hujan hingga malam...
DI BALIK PUNGGUNGNYA TERLIHAT SAYAP
di balik punggungnya terlihat sayap.
gadis kecil lusuh berdarah.
sayap yang melebar terbuka
siap terbang mengangkasa
tanah itu datar saja
seolah sebelumnya tak pernah ada
yang tegak di sana
menengadah.
garis batas pantai, laut, daratan, punah
dan dia berjalan,
gadis kecil tak bernama
berkalung luka
sedikit goyah menapak
sayapnya mengepak-epak
siap meninggallandaskan
impian dan hidup
yang sempit menjepit
lalu hilang.
hilang!
orang-orang lalu lalang
dengan urusan dan duka masing-masing
tak melihat sedikit
gadis kecil bersayap angsa
lusuh tak bernama
membumbung mengangkasa
di langit
ya, di langit
dia berhenti sebentar
menatap kebawah
kearah reruntuhan dan gumpalan lumpur hitam
yang dulunya kota
ke arah orang lalu lalang dengan urusan dan duka masing masing
bergumam dengan kata tak tereja
lalu melesat
menerobos angkasa bercahaya
tak kembali...
(luka aceh adalah luka kita...)
Januari 2005
AZAZIL
dia yang dicampakkan ke bumi
bersama adam dan hawa
dia suara sumbang
di tengah lagu bernada sama
dia yang membelah diri
mengutus faksinya ke penjuru mata angin
dia yang terkutuk dan dikutuk
yang ditangguhkan kematiannya
dia dengan dendam
dan nafsu berkarat
dia yang sendiri
dalam keabadiannya
menanti hukuman
atas sebuah kesombongan
sembari mencari
pengikut sebanyak-banyaknya
dialah perlawanan
terhadap monarkhi
monarkhi absolut lagi!
dia adalah kekalahan
dari sebuah kemenangan
kemenangan menyatakan isi hati
kemenangan kekalahan!
DATANGLAH DATANG
datanglah datang
dan lihatlah bagaimana aku di sini menanti
menggelegak dalam rindu
mabuk dalam pesona
dirimu
aku jatuh ke dalammu
ke dalam lubuk jiwa
dan tatapan mata
matahari yang nyalang
tak cukup terangkah menelanjangi hasratku, niatku?
aku, terjangkit cinta!
denyut jantung, desiran darah
belum utuh menjadi hidup tanpamu!
perlahan ku kenakan rasa
kusiapkan hati dan jiwa
untuk membuka pintu
menyambutmu.
PAGI KEDUA
di luar hujan
kilat menggerayangi langit
suaranya begitu jauh
pagi yang dingin
ditingkahi ritmis gerimis
memerdu di hati kita
pagi larut berbungkus kabut
kita masih di ranjang. berpelukan.
bulan madu belum usai.
kau begitu hangat dalam dekap ku
membawa harapan di antara dingin dan hujan
ini pagi kedua kita dik.
aku belum jemu-jemunya menatap wajahmu yang bermanja
menikmati sentuhan dan dekapan
bertukar kehangatan
kau yang menganggap tubuh kurus lemahku ini
sekokoh benteng yang perkasa
tempat berlindung dan sempurna,
membarakan segenap harga diri,
menyalakan kelaki-lakianku
untuk menjadi
dan menghadirkan
versi terbaik dariku
hanya untukmu,
untukmu!
aku belum jemu-jemunya
mengecap cinta yang kita manifestasikan
dalam sebuah ikatan suci bernama pernikahan
yang semoga langgeng dan kekal
hingga ke ujung waktu kita,
melahirkan keturunan-keturunan
yang mewarnai wajah dunia
dengan kebaikan-kebaikan dan keindahan-keindahan.
aku belum jemu-jemunya
dan tak akan jemu-jemunya
semoga.
diluar hujan mulai berhenti
matahari menyinar malu-malu
mengajak kita keluar kamar
memulai hari ini...
BAHKAN HARUMMU MASIH KU CIUM
bahkan harummu masih ku cium
aku belum berhenti memikirkanmu,
kekasih sahabatku
aku masih belum berhenti!
ini seperti air keras
yang harus ku teguk
seteguk demi seteguk
membakar mengoyakkan
seinci demi seinci
tenggorokan
sampai ke lambung
hingga kematian yang menghentikan!
ini tapi seperti madu
yang ku cecap
sececap demi sececap
manisnya tertinggal di lidah
hingga sekujur sanubari
kau, kekasih sahabatku
tempat berlabuhnya rasa
yang tak pernah usai
cinta yang salah menempatkan diri,
menemukan alamat yang keliru!
dalam jiwaku, hasratku
lelahku, lemahku
kau, kekasih sahabatku
masih kurasakan hangatmu
di ujung-ujung jariku
dalam gelinjang hasratku hasratmu
tempat sejenak kita berlupa
siapa kamu, siapa aku, siapa kita, siapa dia!
bahkan harummu masih ku cium
di tengah-tengah kesunyianku
di tengah-tengah sesal yang menuba jiwa!
BITTER AFTER
Aku rasa begini:
pahit tiba setelah kutelan
sepotong demi sepotong
sekunyah demi sekunyah
seiris demi seiris
hidup punya macam-macam rasa, ku rasa
beda bagi sesiapa yang mengecapnya
ini bukan kesimpulan
baru hipotesis yang desis mendesis
pelangi punya tafsir sendiri.
begitu juga mendung yang gumpal menggumpal.
hujan, titik-titik air bagi kering yang jering
atau genang-genangan comberan
yang main-main ke dalam rumah?
mungkin pahit
mungkin manis
telan saja dulu
apa yang pahit belum tentu jadi pahit
apa yang manis belum tentu jadi manis.
begitulah.
catat! ini bukan kesimpulan
hanya hiburan bagi hati yang rawan.
DOSA ASAL
pada mulanya adalah dosa...
menjelma nafas, menjelma nafsu
ular mendesis-desis
berbisik-bisik
dosa pertama
beranakkan dosa-dosa lain
dalam tatapan, sentuhan, belaian
tubuh terdedah
menggoreng pikiran-pikiran
fantasi-fantasi
fetish nyalamenyala
pada akhirnya adalah dosa
terlahir, tercipta
menjadi lubang jurang
menenggelamkan
pikiran-pikiran
akal sehat
norma tata krama
ular mendesis-desis
ganti tertawa-tawa
pada akhirnya adalah dosa
yang menggucang-guncang sesal!
DEMAM DI TENGAH PANDEMI
terjaga tiba-tiba
dari tidur tak sempurna
indra berkabut
kalut
malam dingin ngelangut
pikiran-pikiran
berbiak di kepala
ditambah demam yang memanggang garang
kepala rasa meretak
vertigo!
di luar sunyi
tanpa bunyi
nyaris mati
bahkan nafas!
tetap gelap
tak tahu
apa
pagi belum tiba
belum...
Agustus 2007/Agustus 2021
BARBIE
hasrat hitam legamku
pada tubuhmu
dan celah diantara buah dada
pecah, punah dan binasa!
aku tua
sementara tubuhmu indah terdedah
bukan tak hendak menjamah
tapi cinta
jadi palung paling ngeri di sini
tak bisa kukatakan
apakah pasrahmu yang menjengah
atau lekukmu yang membuatku resah?
semua sama saja
karena cinta membisukan nafsu
bila memandangmu!
AKU DAN TEMANKU
Aku bertemu teman lamaku pada suatu siang yang garang. kami bertukar kabar dan cakap. anaknya satu sekarang, laki-laki! dia bekerja serabutan sebagai guru bantu dan memberi les privat bahasa inggris. dia bercerita, dengan mata menerawang namun bahagia, tentang istri dan anaknya di kampung yang senantiasa menunggu dan mengganggu dengan telepon-telepon dan SMS rindu. dia juga sempat mengeluhkan harga-harga yang melambung, bagai ombak di malam berbadai yang seakan hendak membalikkan perahu rumah tangga yang kecil dan rapuh. dia tampak kurus, layu namun makin tenang, matang.
lalu dia bertanya "apa kabarmu?" aku tertunduk gagu. perlukah kukatakan bahwa tahun-tahun ini aku hanya sibuk membangun puisi serta mengejar mimpi-mimpi tentang masa depan gilang gemilang sembari hanya menelentang?
aku membisu. lalu percakapan kami habis sampai disitu.
4 Juli 2007
UNTUK KAMU (Jangan berhenti...)
Maafkan aku yang menikmati
setiap kedekatan kita
harum parfummu
halus rambutmu
hangat kulitmu
massa tubuhmu
aku berusaha
menghentikan cinta
yang memang tak bakal kau indahkan
(sementara dia masih di sana...)
jangan takut manis
aku janji!
cuma, jangan salahkan
hati kecilku yang terus berbisik
"jangan berhenti..."
kosong hampa Lazuardi tanpa makna melahirkan lara
-
hati yang dibakar cemburu merah membara bahangnya terasa hingga ke dada hati yang dibakar cemburu menyala-nyala di segenap ruang jiwa mem...
-
bintang kecil genit di langit mengerdipkan manjanya kepadaku yang membuka jendela adakah harap yang dikerlipkan sinarnya? apakah cinta yan...
-
aku hanya ada sekadar ada sebatang tubuh yang lengang menatap lancang dari balik jendela aku hanya ada sekadar ada sebatang tubuh bernafas ...