Minggu, 22 Maret 2020

“YUK...!”






"yuk..."
ajak suara itu
ketika aku membuka pintu
disambut gelap

kemarilah
bisiknya halus
senyum bibir merahnya
membiusku

ayolah
gumamnya manja
tangannya merabai tubuhku
aku gemetar
hitam legam

dan aku tak tahu mesti bersikap
karena setan begitu manis mendekap!

6 juni 1999

H A L O




ada lingkaran
mengelilingi bulan
mewakili keindahan

langit cerah
rumah-rumah pada megah

tapi,
kau tetap kenakan sayap
dan terbang entah kemana

“nanti”
kata mu sebelum melesat
masih terngiang
di telingaku yang lamur

kelak, entah sempat lagi
kita berbagi bulan

karena kau tetap pergi
aku sekedar tugu mati!

AKU BEBASKAN KAU


AKU BEBASKAN KAU


aku bebaskan kau.
aku bebaskan.
aku bebaskan kau terbang
melayang-layang
sendiri menggapai awan.
aku bebaskan kau
menari-nari
mengikut hari.

aku bebaskan kau karena aku mencintaimu. sangat.

kau miang riang
bertabur warna. bercahaya.

aku hanya mampu memberi belenggu, kalau kau mau tahu.
penjara beku! atas nama cinta!!

aku bebaskan.

karena aku, ya akulah yang terpenjara
ternoda, terbata
dalam cinta.

sepenggal pengharapan
beracun, membusuk.

nyaris gaib
enggan raib!

                       25 september/ 2 oktober 2008     

Sabtu, 07 Maret 2020

KEPING


KEPING


ini keping
bukan puing

fragmen
potongan pazel

ini keping

menit, jam, hari, 
satu peristiwa
dari banyak peristiwa
keseluruhan cerita

sebuah plot
bukan pot

puisi ku keping
tapi bukan puing
dan tak jadi garing
(semoga!)

16 oktober 2007

MATAHARI ASNI


MATAHARI ASNI



asni, kau matahari
sedang aku bulan separo
separo terang, separo gelap
warna-warna pudar
dalam gelap wajah malam

kuletakkan mimpi
ditiap baris kata

entah kenapa
ada tanya bernyawa
membujur di kepala
silang menyilang
menerobos hendak keluar

asni, matahari
kuletakkan puisi
di muka pintu hati

semoga ada cukup cahaya
untuk menerangi separo aku
separo aku

juli 2007

PUISI JUNI


PUISI JUNI


juni menulis puisi
di serambi pagi
juni menulis puisi
di siang hari
juni menulis puisi di senja pasi
juga malam sepi

akar berakar
di tanahtanah resah
menyesak
dari paruparu berdebu

juni menulis puisi
di citacita nisbi

     lembam
kelam
     seperti malam


13 juni 2005

kosong hampa  Lazuardi tanpa makna melahirkan lara