Kamis, 27 Juni 2024

HARI BIASA

Menghapus dan menulisnya 
Lagi dan lagi
Pesan-pesan yang tak pernah terkirim 

Menahan degupan di dada
Laksana genderang hendak perang
Ketika tanpa sengaja
Tertekan juga tombol kirim

Berlaga dengan rasa
Meminta maaf atau biarkan saja?

Menatap dalam diam 
Seraut wajah
Seraya berharap kemungkinan terindah menjamah

Berlaga dengan rasa
Apa harus diam atau dikatakan?

Ternyata kita pernah selugu itu
Berdiang dalam hangatnya cinta
Yang begitu manja tapi sederhana
Mewarnai segala rasa

Ternyata kita pernah sesalah itu
Menghayati cinta secara luar biasa
Laksana gelora
rasa yang nyala menyala

Namun, betapa dahsyatnya waktu
Meninggalkan itu semua
Dalam liat ligatnya yang mendudu maju
Meninggalkan semua 
Jadi hanya sekadar bekas, berkas kenangan yang takkan mungkin bisa diulang.

Dulu, itu hanya hari biasa
Diantara hari-hari biasa lainnya
Berhias gelak dan canda 
Tanpa banyak berpikir tentang
makna dan hakikat

Hidup hanya sederhana
Bersahaja mengikut alurnya.

Namun, betapa dahsyatnya waktu!

Jumat, 21 Juni 2024

MANUSIA MENGHIDUPKAN PERISTIWA

Manusia menghidupkan peristiwa 
Dengan makna
Memberinya drama
Memberinya rasa

Semua padahal hanya biasa
Lahir, kawin, mati
Ada di setiap sudut dunia

Hanya peristiwa biasa
Menjadi rutin
Serutin terbit tenggelam nya 
Mentari

Manusia yang memaknainya
Memberi cerita, drama 
Bahkan memberikannya nama
Nyawa juga cinta! 
 
Peristiwa terus berjalan
Seiring gerak semesta 

 

KAMU BERHAK BAHAGIA

Kamu berhak bahagia
Biar bukan bersamaku
Segala suka cita rasa gembira
Berhak kau sematkan di hatimu

Aku hanya benalu
Yang memberati pikiranmu
Sudah selayaknya kau basmi
Kau habisi

Cinta yang kuanggap suci tanpa noda
Adalah beban yang memberatkan langkah

Kamu berhak bahagia
Bersamanya
Dia yang sudah kau cinta  
Sejak lama

Aku hanya benalu
Tumbuh bersembunyi
Dalam gelap bayang-bayang
Sendiri
Berusaha mengakar
Mencari-cari meresapi
Rasa cinta dalam hatimu

Aku hanya benalu pengganggu
Gulma yang bersahaja
Menyelinap mencari cinta
Dalam jiwa raga mu

Kini kau akan akhiri masa
Sendiri mu
Memutuskan pilihanmu
Meninggalkan segala luka
Cerita lama
Membangun episode baru

Dan aku
Dengan luka tersembunyi
Berkuah darah
Bergelimang nanah

Rasa pedih dan nyeri
ku tahan sendiri
Menutup koyak rebak
Menjahit setiap bilur luka
Dengan tangan yang lemah gemetar

Kau berhak bahagia.


Jumat, 14 Juni 2024

PATAH HATI SEPERTI DI FILM-FILM

Ini bukan patah hati 
Seperti di film-film 
Dimana setelah semua drama dan duka
Selalu berujung bahagia.

Ini bukan luka
Seperti di film-film 
Dimana darahnya hanya sekadar properti
Dimana sakitnya hanya akting yang garing

Ini patah  di hati,
ini luka yang nyata
Sakitnya lama terasa
Tetap tinggal dalam dada
Dalam jiwa

Ini patah di hati
Ini luka yang tetap dibawa 
Dibungkus laku biasa 
Dihias canda dan tawa
Di simpan di pedalaman hati
Yang jauh tersembunyi 
Tempat yang bahkan diri
Tak berani mengunjungi

Ini bukan patah hati seperti di film-film 
Tiada akhir bahagia
Tiada karakter utama
yang terakhir tertawa 

Hanya ada realita 
Yang sibuk menata luka
Sambil mencoba tertawa
Dan menyeka airmata
Yang jatuh meluruh 
Ke dalam...

secara bersamaan!

Ini memang bukan
patah hati seperti di film-film 
biarpun terkadang diri
ingin bermimpi
merasai ...

PUISI YANG TAK PERNAH TIBA

Puisi tak pernah tiba
Terkunci di laci
Terkunci di lemari 

Bagaimana kan hendak tiba
Tiada hasrat untuk membaca
Sendiri ia tergeletak
Di dasar laci
Di lemari terkunci

Pesannya mengampas
Luruh seiring waktu membisu
Basi, mati
Tetap tersembunyi.
Tak bisa bernyanyi
Mewakili perasaan hati

Habis guna
Terpenjara

Puisi tak pernah tiba
Lenyap dalam kelindan masa
Lesap dalam kumparan asa

Surat cinta yang coba-coba
dibungkus kata-kata bijaksana
Surat cinta yang bersembunyi
Dalam larik lirik sayu merayu 
Punah, binasa.
                           Kadaluarsa!

Hanyutlah dia dibawa arus masa
Mengambang hilang dalam ruang
Lalu karam dalam kelam
Ditinggal panah waktu laju mendudu
Menjadi sampah peradaban
Menjadi sampah perasaan
Residu yang tak pernah habis terbakar
Hitam berjelaga
Berkerak di sudut hati
Terdalam 
Terlegam
Terhitam!

Puisi yang tak pernah tiba
Tertinggal dalam laci
Terkunci di lemari
...

Senin, 10 Juni 2024

MENCINTAI TANPA MEMILIKI

Berdamai dengan diri 
Yang terlalu lelah bertempur

Meletakkan segala senjata
Asa, harap, sebangsanya 

Kembali menyerah kalah
Pada takdir yang gagah

Kini diri hanya patuh 
Menatap dari jauh
Segala riuh menggemuruh

Mengemasi diri
Merawati luka hati
Sembari meniti
Jalur pergi

Semua sudah mendekati akhir
Pintu jendela telah 
Rapat dikunci
Berhenti berpaling
Menatap lagi ke depan

Sisa jalan yang kian dekat
Kian rapat
Dengan maut yang menyambut
menjemput!

Belajar dan terus belajar
Untuk mencinta tanpa memiliki
Karena sesegala yang ada 
Bukan pula punya kita...

Belajar mencintai tanpa memiliki
Belajar melepas

Karena cinta
Mungkin tak pernah mungkir
Mungkin tak kenal akhir
  ...



Senin, 03 Juni 2024

BULAN SABIT SEIRIS TIPIS

Bulan sabit 
Seiris tipis 
Lenyap ditelan awan
Malam jadi sempurna
Gelapnya

Harapan
Mengawang, menggenang
terapung mengambang
Hanyut perlahan, hilang

Sekali lagi
Hidup memberi coba
Ujian lama
Dengan soalan itu juga
Membawa bukan menaikkan
Malah menghempas menjatuhkan

Bulan sabit
Setipis kertas
Melayang-layang
Diantara awan
Redup kilaunya
Dikalahkan mendung 
Yang siap menumpahkan hujan

Memulai badai lain lagi



DI TENGAH BAHAGIA, ADA YANG BERDUKA

Di tengah bahagia
Ada yang berduka

Di tengah suka cita
Ada luka menganga

Tak semua bahagia
Membawa gembira

Kini, menjelang hari bahagia
Bersiap diri mengemasi hati

Untuk terluka
Untuk berduka

Kini, sembari .menghitung hari
Mengasingkan diri menyepi 
Menjauhi segala derak gerak

Kalbu menjamak 
sajak yang berarak
Melagukan elegi patah hati
Abadi

Segala asa cita
Harap gelap 
Dikuburkan
Dimakamkan
Pada pusara tak bernama
Yang selamanya tinggal tersembunyi
Di relung palung
Terdalam
Terkelam.

Di tengah bahagia
Di tengah suka
Tersembunyi duka

Luka menganga






Sabtu, 01 Juni 2024

LUKA INI

Luka ini 
Seperti luka-luka 
Yang telah biasa kurawat
Di hati yang penuh bekas
bilur dan galurnya.

Semua bisa ku rawat 
Semua biasa ku ruwat
Biar perih tertimpa air mata

Luka ini 
Hanya menambah kumpulan lain 
dari berbagai luka yang tertinggal 
Selaras alur masa

Yang paling pedih
Yang paling perih
Dan paling sedih 
Adalah ketika menyadari 
Bahwa semua luka
Berasal dari sebab musabab
Yang sama.  

Luka ini
Ku balut
Ku rawat
Ku ruwat
Sendiri

Biar perih 
Tersiram air mata
Yang fana

kosong hampa  Lazuardi tanpa makna melahirkan lara