Rabu, 23 November 2022

PUISI YANG MATI DI PAGI HARI

 

Oleh tersebab permainan kata yang tak berujung pangkallah puisi mati tadi pagi. Ia mati sendiri. Tak ada yang menemani kecuali secarik sepi. Tak banyak yang melayat kecuali orang-orang tua dan pemuda-pemuda putus asa. Orang-orang sudah lebih dahulu muak. Menyumpahinya agar cepat-cepat mati. Ya, sebelumnya puisi telah kehilangan tangan dan kaki. Kini, nyawanya yang pasi.

Pemakaman dilakukan hari itu juga setelah zuhur yang lembur. Doa di pimpin langsung oleh uztad yang khianat. Wajah-wajah peziarah jadi satu dalam ekspresi. Menyembunyikan tawa nganga dalam duka yang gila. Semua berlalu tanpa tangis, jangan lagi raung.

Kini hanya tinggal makam yang sepi. Entah apa yang terjadi di balik gundukannya.

 

17 april 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kosong hampa  Lazuardi tanpa makna melahirkan lara