Oleh tersebab permainan
kata yang tak berujung pangkallah puisi mati tadi pagi. Ia mati sendiri. Tak
ada yang menemani kecuali secarik sepi. Tak banyak yang melayat kecuali
orang-orang tua dan pemuda-pemuda putus asa. Orang-orang sudah lebih dahulu muak. Menyumpahinya agar
cepat-cepat mati. Ya, sebelumnya puisi telah kehilangan tangan dan kaki.
Kini, nyawanya yang pasi.
Pemakaman dilakukan hari
itu juga setelah zuhur yang lembur. Doa di pimpin langsung oleh uztad yang
khianat. Wajah-wajah peziarah jadi satu dalam ekspresi. Menyembunyikan tawa
nganga dalam duka yang gila. Semua berlalu tanpa tangis, jangan lagi raung.
Kini hanya tinggal makam
yang sepi. Entah apa yang terjadi di balik gundukannya.
17
april 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar