Rabu, 23 November 2022

ODE KEPADA SENJA

 

I

Senja, campuran warna-warna, telah menyulut horison

sebelah barat jadi pameran lukisan maha agung.

Burung-burung yang pulang menjadi siluet, tinta hitam yang menebal tepian. Azan mengambang diantara rumah, gedung-gedung dan pikuk kendaraan lalu lalang.

 

 

II

Senja punya sidik jari sendiri. Berbeda setiap hari.

Seolah punya ciri. Ia merayap begitu cepat. Sebuah kilas dalam dimensi keempat. Ligat tanpa sekat. Berebut dengan malam yang menunggu giliran mengganti tempat.

 

 

III

Selalu senja yang jadi sumber inspirasi, luah kepedihan atau sekadar hamparan takjub. Segala perih, letih, jerih, tawa, nganga, luka, suka menemu konklusi sementara sebelum melangkah lebih lanjut.

 

IV

Senja seakan mengekalkan misteri. Sebuah perhentian sejenak sebelum kembali berjalan (dan diseret) bersama waktu. Senja adalah sebuah tepian, pantai dari lautan malam yang gelap, segelap namanya. Tepian  yang harus segera ditinggalkan atau bakal digilas keadaan, kenyataan.

 

V

Dan waktu tetap berderap. Berderap dalam putaran kerap. Berderap begitu saja untuk menjemput senja berikutnya dengan segala cerita yang berbeda di sekujur peristiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kosong hampa  Lazuardi tanpa makna melahirkan lara