I
Senja, campuran warna-warna, telah menyulut
horison
sebelah barat jadi
pameran lukisan maha agung.
Burung-burung yang
pulang menjadi siluet, tinta hitam yang menebal tepian. Azan mengambang diantara
rumah, gedung-gedung dan pikuk kendaraan lalu lalang.
II
Senja punya sidik jari
sendiri. Berbeda setiap hari.
Seolah punya ciri. Ia merayap begitu cepat.
Sebuah kilas dalam dimensi keempat. Ligat tanpa sekat. Berebut dengan malam yang
menunggu giliran mengganti tempat.
III
Selalu senja yang jadi sumber inspirasi, luah
kepedihan atau sekadar hamparan takjub. Segala perih, letih, jerih, tawa,
nganga, luka, suka menemu konklusi sementara sebelum melangkah lebih lanjut.
IV
Senja seakan mengekalkan misteri. Sebuah perhentian
sejenak sebelum kembali berjalan (dan diseret) bersama waktu. Senja adalah
sebuah tepian, pantai dari lautan malam yang gelap, segelap namanya. Tepian yang harus segera ditinggalkan atau bakal digilas
keadaan, kenyataan.
V
Dan waktu tetap berderap. Berderap dalam putaran
kerap. Berderap begitu saja untuk menjemput senja berikutnya dengan segala
cerita yang berbeda di sekujur peristiwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar