Sabtu, 26 November 2022

MATA YANG BERDOSA

mata yang diam-diam menatap

mata yang diam-diam mencerap

mata yang diam-diam mengharap


hati yang lelah

hati yang begah


ini cinta tak sampai di ujung lidah

ini cinta tak sampai di telinga yang terjela

ini cinta hanya mendekam muram di hati


mata yang berdosa

mencuri setiap peristiwa

yang berkelindan di sekitarnya


hati yang karam berjelaga

dalam rindu yang kronis kritis


mata dan hati yang merindu

                                                kepadamu


Rabu, 23 November 2022

PUISI YANG MATI DI PAGI HARI

 

Oleh tersebab permainan kata yang tak berujung pangkallah puisi mati tadi pagi. Ia mati sendiri. Tak ada yang menemani kecuali secarik sepi. Tak banyak yang melayat kecuali orang-orang tua dan pemuda-pemuda putus asa. Orang-orang sudah lebih dahulu muak. Menyumpahinya agar cepat-cepat mati. Ya, sebelumnya puisi telah kehilangan tangan dan kaki. Kini, nyawanya yang pasi.

Pemakaman dilakukan hari itu juga setelah zuhur yang lembur. Doa di pimpin langsung oleh uztad yang khianat. Wajah-wajah peziarah jadi satu dalam ekspresi. Menyembunyikan tawa nganga dalam duka yang gila. Semua berlalu tanpa tangis, jangan lagi raung.

Kini hanya tinggal makam yang sepi. Entah apa yang terjadi di balik gundukannya.

 

17 april 2008

KELAK

 

     kelak mungkin saja lembarlembar penapena ini habis cerita, denyut degup jantung hidup.

    kelak lembarlembar, penapena ini pasti binasa. meninggalkan nisan bergurat kata-kata, bergurat perbuatan.

    kelak semoga segala pedang, bedil, pisau sangkur terkubur lebur hancur. hingga tiada gerah resah menggebah amarah.

    kini, jiwaraga masih tercekik, tersesat dalam lembarlembar sastra, entah kapan bisa keluar, berkobar, bersinar.

    kini, ku coba hela jiwa menyongsong edisi baru. mungkin masih tetap penuh luka, penuh nganga, penuh air mata.

    kini, ku coba siapkan warisanku, kebanggaanku,  peradabanku!

      

 

23 feb/1 juli 2008/24 nov 2022

ODE KEPADA SENJA

 

I

Senja, campuran warna-warna, telah menyulut horison

sebelah barat jadi pameran lukisan maha agung.

Burung-burung yang pulang menjadi siluet, tinta hitam yang menebal tepian. Azan mengambang diantara rumah, gedung-gedung dan pikuk kendaraan lalu lalang.

 

 

II

Senja punya sidik jari sendiri. Berbeda setiap hari.

Seolah punya ciri. Ia merayap begitu cepat. Sebuah kilas dalam dimensi keempat. Ligat tanpa sekat. Berebut dengan malam yang menunggu giliran mengganti tempat.

 

 

III

Selalu senja yang jadi sumber inspirasi, luah kepedihan atau sekadar hamparan takjub. Segala perih, letih, jerih, tawa, nganga, luka, suka menemu konklusi sementara sebelum melangkah lebih lanjut.

 

IV

Senja seakan mengekalkan misteri. Sebuah perhentian sejenak sebelum kembali berjalan (dan diseret) bersama waktu. Senja adalah sebuah tepian, pantai dari lautan malam yang gelap, segelap namanya. Tepian  yang harus segera ditinggalkan atau bakal digilas keadaan, kenyataan.

 

V

Dan waktu tetap berderap. Berderap dalam putaran kerap. Berderap begitu saja untuk menjemput senja berikutnya dengan segala cerita yang berbeda di sekujur peristiwa.

Senin, 14 November 2022

MERAPUH

sekali kala

sekali masa

ingin jatuh merapuh

ingin jatuh terunduh


berbaring meringkuk di pangkumu

laksana bayi dalam rahim yang bisu

melepas segala bungkus baju-baju.  


membuka segala topeng

koreng meloreng


meletakkan segala beban

menurunkan semua bawaan

meninggalkan di luar ruangan


sekadar kita berdua

berlupa dari dunia


dalam hening malam temaram.








kosong hampa  Lazuardi tanpa makna melahirkan lara