di sore berangin menampar-nampar
kau tegak lusuh
tak peduli pohon terbantun
debu menyesak udara
satu kata
hanya satu kata tereja
dari gerak bibirmu
untukku
yang menatap dari jendela
lalu kau balikkan punggung
yang penuh nganga luka
bekas cerita hampa
bilur cemeti membekas keras
aku gagap
hati pengap
di sore berangin menampar-nampar
kau hilang tanpa jejak
tanpa kusut di tirai jendela
29 januari 2005
Tidak ada komentar:
Posting Komentar