Sabtu, 26 Desember 2020

REMUK

belum apa apa sudah patah

pecah


remuk berserakan 

di hembus angin waktu.

yang menghantu


dinding dinding bisu

hanya menatap


tak sekali menilik

melirik 

 

berlian yang tersembunyi

karam dalam lumpur


masih begini

lelah.


tak jua bisa menebar

pesona keindahan diri

tersembunyi di balik pintu.


terasing tersendiri

di dunia yang tak peduli


cinta, 

tak punya rasa iba!



SOSOK TUA YANG BERDIRI DI AMBANG PINTUMU

sosok tua yang berdiri di ambang pintumu

masih lekat dengan ribuan pertanyaan

tentang lelakuan sikap

hasrat, inginmu 


umur boleh saja tua

tapi dia tetap terbata

mengeja bahasa cinta

yang tak pernah dapat terbaca sempurna


tenggelam dalam resah yang tak pernah melandai


sosok tua itu masih menatap

matanya hanya bicara 

 menggantikan mulut, bibir dan lidah

pita suara yang terjajah


sampai dimana batasnya?

hanya tanya yang jadi hampa


sosok tua yang berdiri di ambang pintumu

26/27 desember 2020


 


DI SORE BERANGIN

         di sore berangin menampar-nampar

kau tegak lusuh

tak peduli pohon terbantun

debu menyesak udara

 

satu kata

hanya satu kata tereja

dari gerak bibirmu

untukku

yang menatap dari jendela

 

lalu kau balikkan punggung

yang penuh nganga luka

bekas cerita hampa

bilur cemeti membekas keras

 

aku gagap

hati pengap

 

di sore berangin menampar-nampar

kau hilang tanpa jejak

tanpa kusut di tirai jendela

 

 

29 januari 2005

ZIARAH

  

di pintu makam itu aku berdiri

 

senja memerah

mewarnai awan-awan kumulus

angin resah.

 

tak ada yang menawari jalan

aku tersengat di belantara nisan

orang lalu lalang

melangkahi kuburan

 

ini harusnya ziarah

ziarah mengetuk pintu-pintu barzah

membawa bekal doa dan pahala yasin

 

aku terlantar disini.

LAGU SENTIMENTIL

         segala dinding-dinding

tembok-tembok

robohlah!

 

pengap bengap

terperangkap aku

didalamnya

 

segala debur lebur

jantung hanyutlah!

kularungkan bersama bayang-bayang

angan-angan.

 

aku di gamit cinta!

 

segala gagu ragu

musnahlah!

aku layu didekapnya

 

segala cinta segala rasa

hadirlah! datanglah!

bawa aku....................

 

18 november 2008

BULAN DI HATIKU

 terangnya bulan

telah turun di hatiku yang rawan

menebar cahaya

ke segenap sudut-sudutnya yang kumuh

dan rapuh....

 

jelas

wajahmu jelas

dalam temaram

senyum yang menenangkan

tutur yang menyejukkan

 

hati yang sepi diajak bermain-main

dalam pusaran perasaan perbuatan

 

bulan di hati

bicara dengan cahaya

dalam bahasa tanpa kata

 

cinta

TIDAK ADA PUISI MALAM INI KECUALI SEPI

tidak ada puisi malam ini kecuali sepi

bulan menerawang
di pangku angin
sepoi-sepoi

serangga malam
mendadak diam
sunyi merendam
hingga tenggelam

sudah terlalu jauh langkah
menapak dalam kegelapan 

tanpa jeda 
tanpa arah untuk pulang

belum jua tampak setapak
jalanan masih panjang dan meretak

malam sudah terlalu malam
bahkan bulan, pijar lelampuan
tak cukup menerangi

apalagi puisi

perjalanan masih panjang dan lengang.





kosong hampa  Lazuardi tanpa makna melahirkan lara