Jumat, 31 Mei 2024

SELAMAT DATANG KEMBALI

Di ujung sana
Kegelapan membuka
Menyapa
Mengucapkan salam

"Selamat datang kembali!"

BUKANKAH HARUSNYA SUDAH USAI?

Bukankah harusnya sudah usai?
Bukankah harusnya sudah selesai?

Tapi, mengapa hati tak berhenti
Untuk merasa nyeri, merasa sepi?

Diri masih enggan menerima
Hati masih enggan membuka 

Sudahlah ...
Hanya kembali bersendiri
Menguras airmata
Yang telah kering

Seret, kesat 
Keluar dari mata yang panas membara
Hilang diuapkan matahari
Sebelum jatuh menyentuh 
Bumi...

Keperihan ini bukan untuknya
Dia perlu dan harus bahagia!

Keperihan ini hanya untuk diri
Yang tak pernah bisa berhenti mencinta
Mengipas-kipasi asa
Yang sebenarnya hampa

MENCINTAI YA MENCINTAI

Mencintai ya mencintai
Kenapa harus repot dengan hal lain?

Menyayangi ya menyayangi 
Kenapa jadi riweh dengan yang lain?

Aku ya seperti ini
Mencintai tanpa tapi
Hanya merasai apa yang ingin dirasai
Hanya mencicipi yang hendak dicicipi

Perkara lain?
Perkara punya siapa
Perkara mau tak mau
Perkara bagus tak bagus
Perkara bohong tak bohong 
Itu apa?
Batu semua!*

Mencintai ya mencintai saja
Sampai jiwa tua terlunta!

                              *Dari puisi Chairil Anwar 

Kamis, 30 Mei 2024

MANUSIA BIJAK

Kitalah yang dengan congkak
Menjuluki diri sendiri
Sebagai manusia bijak

Kitalah 
Yang tersisa
Yang lain akhirnya kalah 
Pada punah

Kitalah dengan keangkuhannya
Melintasi waktu demi waktu
Entah nanti menuju kepunahannya sendiri
Rebah merebah menjadi tanah
Atau malah mengangkasa
jadi warga semesta
Warga antariksa
Orang-orang bintang?!

Kitalah yang merasa seolah perusak bumi
Membuat planet ini sakit 
Menggerogoti setiap sumber dayanya
Lalu dengan sombong dan lantang berteriak:
"Selamatkan bumi!"
dan segala slogan yang menjadikan diri kita sebagai sang penyelamat kehidupan. 

Sementara pernahkah kita bertanya, apakah bumi akan selesai andaikan kita, si manusia yang (katanya) bijak, musnah dalam alur sejarah, lesap dalam arus waktu atau hilang sama sekali akibat ulah nya sendiri?

Apakah bumi akan binasa ketika kita tak lagi jadi pemimpin, Khalifah di wajahnya  yang tua seumur 4 milyar tahun?

Apakah mau kita mengakui bahwa kitalah, manusialah yang sebenarnya takut dengan segala perubahan di planet ini sembari berteriak-teriak merasa hebat bisa menyelamatkannya?

Karena, ketika segala pemanasan global, perubahan iklim, kenaikan suhu bumi, kenaikan muka laut, koyaknya lapisan ozon, punahnya hewan dan tumbuhan, pergeseran lempeng benua, berubahnya kutub bumi dan segala macam yang mengerikan terjadi, kita jugalah yang merasakan, menanggung akibatnya!

Kita yang layuh rapuh
Sekali tetak juga jatuh seperti kata Chairil Anwar 
Hanya tenggelam dalam waham kebesaran sendiri
Mengganggap diri si paling bijak, paling baik, paling sempurna,
padahal hanya satu mahluk diantara milyaran yang pernah mengisi bumi
Dikutuk oleh kesadaran yang muncul dalam pikiran
Lalu menganggap dan menamai diri sebagai Manusia Bijak
Homo Sapiens.

Kitalah dia
Manusia.



Senin, 06 Mei 2024

HARAPAN ADALAH RACUN

Harapan adalah racun
Yang membunuh pelan-pelan 

Harapan datang dari keinginan
Keinginan lahir dari obsesi 
Obsesi diawali kebutuhan 
Kebutuhan untuk bertahan
Kebutuhan untuk Ada

Harapan adalah racun
Yang membisiki diri
Dengan ilusi dan imaji
Mengata-ngatai 
Mengisi diri
Tanpa memberi opsi

Ingin berhenti berharap
Harapan hanya memberi makan
Ego yang kelaparan
Terlalu banyak meminta
Bahkan pada satu yang mungkin
Takkan bisa pernah diraih
Selamanya.

Hanya sekadar mengisinya
Dengan harapan kosong 
Sekosong rongga
Di dada
...


Jumat, 03 Mei 2024

AKU TAK HADIR

Aku tak hadir 
Di setiap mimpi-mimpinya
Aku tak ada
Di setiap gerak lakunya

Aku punah merebah
Dalam rima iramanya
Aku bisu 
Dalam deras doanya

Aku tiada dalam pikiran-pikirannya
Aku sepi dalam rindu-rindunya

Aku hilang dalam gelisahnya
Aku musnah dalam resahnya

Aku hanya manusia biasa
Bukan pelakon utama 
Dalam kisah-kisahnya

Hanya kilas kilat lewat
Mencoba menawarkan terang
Di tengah duniamu 
Yang kilap gemerlap.

Menerangi terang
Yang sudah terang
Bagai sebatang lilin
Di tengah siang

Aku tak hadir
Dan tak pernah hadir 
...

BINTANG DIPELUK KABUT

Bersinar
Tak harus benderang 

Tampak
Tak mesti terlihat

Ada 
Tanpa perlu mengada

Mengisi masa
Dengan cahaya

Menjadi petunjuk
Di malam buta

Sudah terang
Tanpa perlu terang terangan

Bintang dipeluk kabut
Tetap juga bintang

Bintang bertabir awan
Masih juga bintang

Benderang 
Dalam gelap angkasa
Di kesunyian alam semesta

Tak terjangkau
Dalam rentang
Bentang tahun cahaya

Tak ada yang mampu 
Menuju dia

Tak ada yang mampu
Mengusir kilaunya

Jauh
Namun memengaruh

Bintang di langit
Dipeluk kabut
Dikurung awan
Dipenjara jarak
Ruangwaktu

TAHU DIRI

Tahu diri untuk berhenti
Biar perih menghiasi
Biar sepi menemani
Biar takdir menghakimi

Tahu diri untuk berhenti 
Walau kehendak menyesak
Keinginan memaksa
Asa dan harapan memabukkan

Tahu diri untuk berhenti
Dengan segala sakitnya
Sebak merebak
Amarah menggelegak

Tahu diri untuk berhenti 
Menyudahi mimpi-mimpi
Biar keinginan kemauan
Masih panas menyala-nyala

Membakar
Menghanguskan
Menyiksa 
Mematikan

Tahu diri
Untuk berhenti 

Menahan diri
Menahan hati

kosong hampa  Lazuardi tanpa makna melahirkan lara