Kamis, 25 April 2024

KAU

Kau adalah harapan
Yang  di gaung-gaungkan 
Dalam deras daras doa 
setiap hari

Kau adalah api 
Yang menghangati
menyalakan hati
Yang hendak mati

Kau adalah mimpi-mimpi 
Yang lahir dalam sepi 
Jauh dari bau birahi

Kau adalah cinta
Yang paling nyata
Diantara semua 
yang fana dan tak bermaya 

Kau adalah kidung indah 
yang terdengar
Lagu merdu mendayu
Mengelus-elus hati 
Dengan nada dan puisi

Kau yang membuka kembali 
Pintu asa dan jendela
Rumah tua yang terlunta
Di relung jiwa

Namun
Kau juga 
Yang kembali mengoyak luka
Dalam alur sejarah
Dan tema percintaan 
itu-itu saja

Kau torehkan luka
Di atas luka lama
Menambah silang menyilang berbilangnya 
Berbumbu duka dan air mata...

Namun semua
Pada akhirnya
Aku juga yang salah 
Aku juga yang lemah
Aku juga yang guyah
Tak mampu jua
Menggoreskan cinta
Mewarnai jiwa
Dengan rasa

Senantiasa 
Bersikap seadanya
Tanpa kesan dan pesan
Yang mendalam
Yang menggenggam

Minggu, 21 April 2024

HARI TERAKHIR DI DUNIA

Apa yang kau lakukan
Ketika tahu
Ternyata hari ini 
Adalah hari terakhir di dunia?

Apakah berlari-lari
Sembari bertangis- tangis 
Mencari benteng terkuat
Bungker terdalam
Gedung terkokoh?

Berdoa hingga suara
Habis terkikis 
Menadahkan tangan
Memohon ampun
Atas dosa-dosa 
Yang berkarat mengikat?

Atau sekadar jatuh tersungkur
Menyesali segala yang ada
Menangisi yang telah terjadi?

Atau mencari
Memeluk orang-orang yang dicintai
Sembari pasrah menanti 
Sang maut menghampiri
mencabuti?

Apa yang kau lakukan
Ketika tahu 
Ternyata hari ini
Adalah hari terakhirmu?

Kamis, 18 April 2024

Kamis, 11 April 2024

Mempercayakan rumah
Sebagai bunker terkuat
Yang bisa menahan kiamat sekalipun

Rabu, 10 April 2024

Sabtu, 06 April 2024

Rabu, 03 April 2024

TIRANI WAKTU

Tirani waktu
Dengan lajunya yang bengis
Beranjak meninggalkan segala

Tirani waktu
Mengurung segala
Menjajah hingga punah

Menggilas yang tertinggal
Menggiling yang terbata
Meninggalkannya tanpa rasa iba
Mendudu melaju
Membawa sesiapa
Yang mampu 
Untuk bergantung 
Menyesuaikan diri 
Dengan gelora masa

Tirani waktu 
Jadi bengis melumat sesiapa 
Yang terlupa dan dilupa
Membiarkannya merana
Di tengah pelupaan dan pengingkaran
Yang menjadi racun melenakan

Tirani waktu
Laju menggebu 

HARI TANPA HUKUM, HARI TANPA MORAL

Ingatkah pada suatu hari
Di suatu masa
Dimana hukum dipunggungi 
Di belakangi?

Ingatkah pada suatu hari
Dimana moral dilupakan
Dicampakkan
Dipinggirkan
Diabaikan?

Ingatkah pada suatu hari
Dimana langit digelapkan
Ditutupi asap-asap hitam
dari segala apa yang bisa dibakar, terbakar
Sehingga orang-orang menjadi berani
Seolah Tuhan telah dibutakan
oleh debu dan jerebu yang menyesak udara
Seolah Tuhan telah merestui
Segala gerak dan tindakan.

Ingatkah suatu hari
Dimana segala iri dengki dibebaskan
Segala amarah dilepaskan
Segala dendam dilampiaskan
Segala nafsu dipuaskan

Segala aparat dan penjaga 
Pengayom dan pelindung
Seolah buta
Memalingkan pandang
Memunggungi

Membiarkan api menyala membakar
Menghanguskan apa saja
Siapa saja.

Ingatlah dihari hukum dipalingkan
Justisia dihempaskan ditanah berlumpur
Dengan mata masih terbebat
Namun tangan erat terikat
Diruda paksa
Tanpa peduli suaranya yang meraung-raung 
Diselingi rintih kesakitan

Ingatkah saat itu?
Atau kau belum lahir
Lalu menganggap semua 
Hanya sekadar cerita orang-orang tua
Tinggal cerita lama?

Ingatkah kita?

Semoga ingatan itu tetap ada
Biar pedih perih menyakiti
Sebagai pengingat
Sekaligus doa 
Untuk yang jatuh, terbunuh
Atau rapuh dalam trauma yang tetap selalu ada

Sekaligus doa
Agar tragedi perih ini takkan pernah
Terulang lagi.

Entah sekarang
Entah di masa akan datang

Ingatkah?
Ingatlah!




kosong hampa  Lazuardi tanpa makna melahirkan lara