Minggu, 17 Maret 2024

SAAT SENJA MENJELANG DAN AKU MASIH BERDIRI DI SiMPANG

Saat senja menjelang
dan aku masih berdiri di simpang
jalan yang bercabang-cabang

Di ambang rembang petang
Mentari mulai hilang
Kegelapan menjelang
Menjemput malam yang
Hendak datang

Namun masih di sini aku
Di jalan simpang yang bercabang-cabang

Kaki membatu
Langkah beku
Sementara senja
Jadi semakin tua

Disaat senja menjelang
Saat orang beranjak pulang
Mengemasi sisa-sisa pekerjaan
Mengumpulkan sisa-sisa perbuatan
Membersihkan sampah-sampah
Membereskan remah-remah 
Dengan hati penuh riang
Tanpa bimbang

Tapi Aku di sini
Masih berdiri
Di simpang
Di ambang rembang petang

Ragu dengan pencarian-pencarian
Beku dalam pemikiran-pemikiran 

Jumud dalam resah nan begah












Kamis, 07 Maret 2024

PEREMPUAN SELALU MEMBUATKU LUPA

Perempuan selalu membuatku lupa
Dengan keliyanannya
Perempuan selalu membuatku lupa
Dengan keindahan rupa dan pesona

Perempuan seanggun aliran air*
Yang mengalir turun
Melewati lereng-lereng
Dari mata air abadi di puncak bukit

Aku terlanjur jatuh hati
Pada tiap gerak dan tutur kata
Tatap nan teduh
Senyum nan luluh
Bius yang mengalir dalam darah

Perempuan selalu melenakan
Dengan lembut sikap semestinya.
Binar pada mata yang juga tersenyum
Saat bibir tipisnya memekar tawa

Aku selalu mabuk
Dalam keindahan
Tanpa peduli atau sadari
Mungkin ada air mata tersembunyi
Mungkin ada sakit di hati

Hanya menatap dari luar
Yang mungkin  ada luka di menganga
Yang ditutupi senyum dan tutur bahagia

Bukankah perempuan adalah 
pelakon terbaik?
Pemain peran luar biasa
Menampilkan apa-apa yang berbeda
Dari apa yang tersimpan di dada, 
di lubuk jiwa?

Perempuan selalu membuatku lupa dengan keliyanan dan kecantikannya.
Membuat lupa, membuat mabuk
 
Mabuk cinta!

* Dari Belantara, Liu Cixin

kosong hampa  Lazuardi tanpa makna melahirkan lara