Sinarnya menyinari
Wajahku yang dilumuri debu
Matahari hari ini
lain sekali dikulitku
Hangatnya tetap hangat
tapi tak terasa lagi menghangati
Aku kini telah satu
diantara abu dan debu
diantara batu dan kayu
Bisu. Menunggu.
Terbit juga matahari
setelah kepulan asap
setelah gelombang drama:
Raung dan isak tangis
ratap ketakutan
deru kepanikan
doa-doa yang terancam
ditengah ledakan dan gemuruh
hujan abu dan batu.
Berterempasan berhamburan
mencari keselamatan
panas mengelucak
seinci demi seinci
seari demi seari
di kulit rekah memerah
di tubuh layuh melepuh
Aku kini penunggu
Sembari menunggu
Terbit juga matahari
Biarpun hangatnya lain kini
Sinar yang hadir menerangi
daras doa dan mantra
yang dikirim angin-angin
kepada jiwa-jiwa yang baka
Menuntun membuka sela
diantara pintu barzah yang rapat terjaga
meredam duka dan lara
menghibur sukma-sukma nelangsa
membawa rela ke setiap dada
yang menanggung luka nestapa
Terbit juga matahari
yang lain sekali hari ini
mungkin juga lusa, selamanya.
Menyinari aku
yang rebah tengadah
Menunggu.
Mengenang tragedi Marapi
Desember 2023
Tidak ada komentar:
Posting Komentar