Di rimbun kebun teh
Mata bertatap,
senyum tipis terukir.
Kau jadi kontras di sana
Hijaunya daun teh
Menjadi latar yang mengangkat
indahmu
Udara dingin sedikit berkabut
Memeluk tubuhmu, menyalakan auramu
Bersinarlah engkau dengan senyuman
Yang tak pernah lepas dari bibirmu
Kini hati memang tak seperti dulu
Dalam hasrat gebu menggebu
Rasa telah menyurut
Seiring waktu menggerus hangus
Hati ini tapi,
Masih berbisik
Mendaraskan doa dan harap
Bahwa semua belum mencapai nol
Bahwa masih ada asa tersisa
walau hanya sebesar zarah
yang berpendar lemah
Sembari menata
Degup jantung yang hilang irama
Mata ini tapi,
Masih terus berusaha
Mengirimkan getar gelombang rasa
Sinyal yang bengal
Biar mungkin takkan pernah tiba
hilang terpental
luruh di udara
Sembari merekam
dengan ketakjuban
keindahan sempurna
milik-Nya
Di rimbun kebun teh
Aku menatapmu rindu
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar