Selasa, 28 Januari 2025

BAHASA JIWA

Mentari membuka mata di timur sana
dersik angin membelai mayapada
candramawa luruh tersiram arunika
dunia menyala dalam gelora adiwarna

Pagi tiba
nirmala tanpa luka
sempurna membangunkan diri
dari lelap di ujung malam
dari mimpi-mimpi perihal dara wanodya
yang menggetarkan Sukma

Saatnya berganjak
penuhi benak dengan eunoia
hadirkan simpati untuk sesama 
mudita menghela rasa
kurung dan lupakan iri dan dusta

Lalui siang dengan usaha
kerja keras, kerja pintar
Saat hujan datang mendera
nikmati petrikor, hirup aromanya.

Perlahan senja datang menjemput
swastamita menghibur jiwa 
menyambut malam yang akan turun
menebar selimut hitamnya 
mendinginkan raga membara

Menatap bulan yang menemani
mangata panjang terbentang di bawahnya
riak lirih air nan mengguncangnya

Terlibat senandika seorang diri
mengurai derita dengan derana
menganugerahi kusala, kanigara
pada diri yang letih 
sebagai panasea mangkus
sangkil ke lubuk paling dalam
jiwa paling dalam.

Wahai jiwa yang Bestari
tidur lah kau istirahatlah
istirahatkan kata, raga dan jiwa
berkemaslah untuk terbenam 
dalam pelukan tidur yang lenyak

Agar siap menyambut esok
dengan segala rupa
kemungkinannya.










Sabtu, 18 Januari 2025

PULANGKU KE KAMU

pada senja yang melapuk
ditingkahi hujan yang tengah mengamuk
tersendat aku berlalu
mencari teduh
menunggu

nanti pada saatnya
ku kan pulang 
kembali dalam pelukan rumah
yang biar berduri sendiri
tapi masih ramah menjamah

pulangku pada kamu
pulangku padamu.


YANG MENANTI DI UJUNG JALAN

yang menanti di ujung jalan 
yang menanti di ujung perjalanan

mulai sering mengirim
pesan-pesan rindu

melalui nyeri
melalui sesak
melalui senak

diri kian layuh mengayuh

yang menanti
masih sabar menanti 
menanti diri menghampiri

jalan kian dekat ke ujung 
setapak menapak
menjejak meretak
 sejarak

kosong hampa  Lazuardi tanpa makna melahirkan lara