Sabtu, 28 Januari 2023

RINDU BERADU NAFSU

Rindu beradu nafsu
Dengan sengal nafas memburu.

Aku, kamu, satu di situ
Di kamar gelap tak berlampu
Memuas dahaga cinta.

Kau masih sama
Ketika pertama ku hela
Ku bawa dalam dekap paling ganas
Paling panas.

Rindu beradu nafsu!

Menyusur gunung-gunung
Lembah-lembah 
Mengikat buhul-buhul
Simpul-simpul 
Yang nyaris terkoyak, terlepas
Membarui segenap tekad
Ikrar yang nyaris ingkar.

Di sini, di kamar sepi tak berlampu
Aku, kamu, satu.


Selasa, 24 Januari 2023

MAKA KEMATIANLAH (YANG BISA)

Jika tiada lagi yang membuat kita setara
Maka kematianlah.

Jika tak ada lagi yang membuat kita bersama, maka kematianlah.
 
Kita dihadapkan pada ujung jalan yang sama, 
tempat sepi itu! 

Jika  tak ada lagi harapan yang erat mengikat 
maka kematianlah. 

Jika tak ada lagi yang dapat membangkitkan ketakutan-ketakutan, maka kematianlah.

Hal yang paling dibenci
Hal yang paling dihindari
Hal yang paling  ditakuti

Menjadi penguat paling kuatlah.




Senin, 16 Januari 2023

SEKALI BAHAGIA SUDAH ITU...

Sekali bahagia
Sudah itu hampa 

Sekali bersuka
Sudah itu terluka

Sekali merdeka
Sudah itu lupa

Sekali sejahtera
Sudah itu bencana




Senin, 02 Januari 2023

SUNYI ADALAH DIRI

Sunyi adalah diri
Yang harus kau kalahkan
Setiap kala masa
Dengan berupa-rupa cara 
Berupa-rupa moda

dengan deru pelupaan

Kadang menang
Kadang jatuh membelingkang.

Menari-nari
Dalam arus waktu berlari
Mencari.

BERTAHAN SAJALAH.

Mencoba bertahan
Pada patahan 
Ranting dahan.

Bertahan sajalah

Ingatlah pada
ruap aroma kopi pagi hari
Notifikasi si buah hati
Senyum kecil binar mata
Rasa lega selepas dahaga


Bertahan sajalah
Berbahagialah
Dengan hal-hal yang kecil menyempil
Dengan hal-hal remeh melareh

Bertahan sajalah
Menyerah terlalu mudah
Tetap menengadah.





TANYA

bahkan dalam keadaan beginipun kau tak datang!


aku masih mencoba percaya

dengan segala asa dan harapan membeban

menjalani garis kehidupan 

dalam satu arah lurus

menjalani cabang yang ku pilih sendiri

dari banyak percabangan dan kemungkinan yang bisa terbuka


namun harapan

yang terus membius

menjadi candu pelupaan

membawa diri hanya kembali

dalam liang lubang

lubang liang


aku masih ingin percaya

masih mau percaya

namun adakah, apakah 

Kau percaya?


seribu tanya hanya dijawab dengan diam.


“Eli, Eli, Lama Sabachthani?!"


kosong hampa  Lazuardi tanpa makna melahirkan lara